Kamis, 12 Januari 2017

Keseimbangan Otak dan Hati

Allah menciptakan sesuatu selalu berpasangan-pasangan, umpamanya otak itu langit, maka hati itu adalah bumi. Permisalannya di langiit ada petir berbentuk listrik, sedangkan bumi ada medan magnet. Penetral listrik yang baik adalah bumi. Itulah sebabnya manusia belajar dari alam, hakikatnya semakin tinggi ilmu seseorang maka seharusnya hatinya pun semakin cerdas, hal itu menyeimbangkan  otak yang semakin cemerlang dan ilmu yang semakin melimpah. Bila berilmu tinggi, namun tidak disertai kecerdasan hati maka timbullah penyakit otak. 
Medan listrik dan medan magnet saling berinteraksi, maka jarum magnet pada kompas ternyata bergerak karena arus listrik. Maknanya, arus listrik otak dapat pula memberikan efek getaran pada hati. Posisi yang selaras antara otak dan hati dapat kita jumpai saat seorang hamba bersujud sewaktu solat.  Jika diurai hikmah dalam salat, secara bertrut-turut dari dahi, hidung, mulut serta hati bersujud kepada-Nya. Otak yang selalu dibanggakan oleh manusia dan merasa terhebat disbanding makhluk ciptaan Allah yang acap kali membuat sombong, dengan salat dahi itu tersungkur diatas tanah tak berdaya.
 Esensi nya sehebat apapun manusia jika dibandingkan dengan Allah SWT maka manusia hanya lah kecil dan tak ada apa-apanya. Lalu mengapa manusia masih juga sombong? Telah banyak bukti yang Allah telah tunjukan atas orang-orang yang sombong, hal tersebut ditujukan untuk menjadi bahan pelajaran bagi mereka.seperti Fir’aun yang sombong dan melampau batas, bahkan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Kemudian Allah mengutus Nabi Musa untuk memperingatkan Fira’un, namun naas, raja yang kufur itu justru insaf setelah ajal berada di ujung leher dan hal itu sudah terlambat. Begitu juga Raja Namrud, ia juga mengaku sebagai Tuhan, maka Nabi Ibrahim diutus Allah untuk memberi peringatan kepada Namrud. Dengan kesombongannya itu, Namrud menolak mentah-mentah risalah yang benar guna beriman kepada Allah. Lain dengan kisah Qorun, dia sangat kaya raya, namun karena kekayaannya itulah muncul kesombongan. Akhirnya Allah pun menurunkan adzab kepada Qorun, dengan membenamkan harta dan dirinya ke dalam tanah.Begitulahkisah –kisah orang sombong yang mendapatsiksaandanadzabdari Allah
Saat mulut berdzikir, hati pun ikut bertasbih kepada-Nya. Hati berfungsi mendetoksifikasi kesombongan yang dilakukan oleh otak, hati menetralkan penyakit otak. Saat sedang bersujud, posisi hati berada di atas otak. Hikmah dari hal tersebut ialah pertama, sesuai dengan hadist Nabi saw bahwa tempat Allah di bumi adalah hati, hal ini berarti Allah Maha Tinggi, dibanding otak manusia. Kedua, bahwa yang dinilai di sisi Allah ialah hati. Hati merupakan cerminan dari perbuatan atau amal saleh, bukanlah ilmu yang cemerlang atau kekuasaan yang tinggi. Ketiga, saat bersujud disitulah sedekat-dekatnya Allah dengan hamba-Nya.
Sumber:
Sukri, Suwardi M. (2015). Rahasia Dibalik Penciptaan Organ Tubuh Manusia. Jakarta: Zahira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar