Kamis, 12 Januari 2017

Banten JAWARA

Apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar nama “Banten”? Barangkali, serangkaian kesan mistik akan segera mengemuka: santet, pelet, debus, golok, dan semacamnya. Hal ini mungkin sudah tidak perlu diperdebatkan karena Banten memang dikenal sebagai The Magic City. Lalu, apa yang ada di benak Anda ketika mendengar nama “Jawara”? Apakah istilah tersebut mampu menggiring Anda pada para pendekar berpakaian serba hitam dengan golok terselip di pinggang layaknya di film-film laga kolosal?
“Tampilan fisik jawara, dulu memakai baju (kampret) dan celana panjang longgar berwarna hitam, ikat kepala (romal) atau topi hitam, goo terselip di pinggang, serta selendang sarung gebeng. Busana tersebut dimaksudkan untuk memudahkan (melincahkan) gerak sebagai pemberani,” kata Prof. Dr. HMA. Tihami.
Itu tampilan fisik, lalu bagaimana dengan perangai? Jawara dikenal sebagai orang atau kelompok orang yang memiliki keberanian tingkat tinggi, berbicara sompral dan meledak-ledak, serta mengandalkan kekuatan ototnya. Tentu saja ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Kira-kira di abad ke-19 sampai abad ke-20, jawara juga ulama demikian intens menggerakan rakyat untuk melawan melawan otoritas kolonial Belanda. Hal ini jugalah yang membuat daerah di ujung pulau Jawa ini terkenal sebagai daerah pemberontak dan penganut Islam ortodoks.
Pada 1895, pemberontakan pertama kaum jawara meletus, dipimpin oleh Haji Wakhia. Kemudian pemberontakan petani yang dipimpin Haji Wasid pada 1888. Pemberontakan 1926 dimotori jawara yang berafiliasi ke PKI, juga revolusi sosial yang dikobarkan rakyat Banten pada 1945-1946 (Suharto:1996). Itu dalam skala nasional, akan lebih panjang daftar pemberontakan yang domotori jawara jika ditambah peristiwa lokal. Seperti pemberontakan dari Mas Jakaria (1811), Mas Hajji dan Mas Rakka (1818-1819), Mas Raye (1827), Nyi Gumparo (1836), sampai pada pemberontakan yang dipimpin Ratu Bagus Ali dan Mas Jabeng yang gagal (1839).
Lalu apakah memang jawara hanya memiliki peran sebagai pemberontak? Jika dilacak ke akar sejarahnya yang lain, ternyata jawara memiliki peran sosial yang diembannya. Dalam penelitian bertajuk “Relasi antara Jawara dan Ulama” yang dilakukan Muhammad Hudaeri, sedikitnya jawara memiliki lima peran social, di antaranya sebagai jaro, guru silat, guru  ilmu batin (magis), sebagai pemain debus, dan sebagai tentara wakaf atau khodim kiyai.
Sebagai seorang jaro, jawara memiliki tugas memimpin satu kejaroan (kelurahan). Sebutan jaro ini tak lain adalah seorang kepala desa. Pada masa kesultanan Banten, jaro diangkat oleh Sultan dengan tugas utama mengurus kepentingan kesultanan, seperti memungut upeti serta mengerahkan tenaga untuk kerja bakti. Dalam pekerjaannya, sehari-hari jaro dibantu oleh beberapa pejabat seperti carik (sekretaris jaro), jagakersa (bagian keamanan), pancalang (pengantar surat), amil (pemungut zakat dan pajak), merbot atau modin (pengurus masalah keagamaan dan masjid).
Selain sebagai jaro, jawara juga dikenal sebagai guru silat. Dalam Serat Chentini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa pada masa pra-Islam, di daerah dekat Gunung Karang (Kabupaten Pandeglang) telah dikenal istilah paguron atau padepokan. Masyarakat Banten mengenal banyak paguron seperti Terumbu, Bandrong, Paku Banten, dan lain-lain. Tiap peguron memiliki gerakan jurus-jurus dengan karakter yang berbeda, pun dengan akar sejarah dan filosofinya. Di peguron inilah, jawara mengajarkan ilmu bela diri.
Selain ilmu silat yang bersifat fisik, jawara juga memiliki peran social sebagai guru ilmu batin (magis). Jawara yang terkenal biasanya memiliki kemampuan ilmu batin, selain ilmu bela diri yang bersifat fisik. Ilmu batin tersebut yakni kemampuan untuk memanipulasi kekuatan supranatural, seperti kebal dari senjata tajam, tahan dari api, bisa mengusir jin, dan sebagainya. Dalam memperoleh ilmu kebatinan ini, diperlukan ritual khusus yakni bertapa. Aktivitas bertapa ini sudah dikenal dan dilakukan sejak Islam belum masuk ke Banten.
Satu lagi yang terkenal di Banten, yakni debus. Debus ini dilakukan oleh jawara. Debus adalah permainan yang cukup berbahaya dan mampu memerindingkan bulu kuduk orang yang biasa. Permainan debus hanya boleh dimainkan oleh jawara yang punya kemampuan di atas rata-rata. Karena jika jawara biasa, maka akan mendatangkan balai. Debus juga memiliki macam-macam tingkatan. Ada debus al-madad, debus surosowan, dan debus langitan. Debus al madad merupakan debus yang paling tinggi tingkatannya dan paling sulit. Konon, pemimpin permainan (disebut khalifah) harus melakukan “amalan” yang sangat panjang dan berat. Al madad artinya meminta bantuan atau pertolongan. Karena setiap kali melakukan permainan debus ini, pemainnya selalu mengucapkan kata-kata ‘al madad’ yang menggambarkan bahwa permainan tersebut terjadi atas pertolongan Allah Swt. Debus surosowan merupakan permainan yang tidak memerlukan kemampuan yang tinggi. Debus ini biasa dimainkan oleh para remaja. Nama “surosowan” berkaitan dengan nama istana kesultanan Banten. Debus ini biasanya dipertunjukan di dalam istana sebagai hiburan, bukan untuk mendapatkan kesaktian. Sementara itu, debus langitan adalah pertunjukan yang melibatkan anak-anak dan remaja yang menjadi objek sasaran benda-benda tajam. Dalam permainan ini, anak-anak dan remaja yang menjadi objek senjata tajam tidak akan merasa sakit atau menderita luka-luka. Debus langitan ini ditujukan sebagai permainan belaka.
Terakhir, jawara memiliki peran sebagai tentara wakaf dan khodim kiyai. Mereka biasanya berperan sebagai tenaga keamanan dalam acara-acara besar suatu organisasi atau Parpol. Pada masa orde baru, “tentara wakaf” ini dijadikan alat oleh partai penguasa sebagai satuan pengamanan di Banten. Beberapa jawara bahkan menjadi pengurus papol tersebut. Akan tetapi, perubahan politik sejak terbukanya pintu reformasi telah mengubah paradigm para jawara. Mereka tampaknya ingin lebih netral dan tidak berafiliasi ke parpol tertentu.
Jawara yang sebenarnya adalah “khodim kyai”. Itulah suara-suara yang sering muncul dari para warga yang tidak setuju dengan peran-peran dan perilaku jawara sekarang ini. Peran sebagai “khodim kyai” maksudnya berperan sesuai yang diajarkan para kyai, yakni: membela kebenaran, berpihak kepada masyarakat yang lemah, berperilaku santun dan tidak sombong dan sejumlah aturan normatif lainnya. Peran-peran yang ideal itu semakin kurang dilakukan oleh para jawara di tengah kepungan kehidupan yang materialistik.
Lalu, di zaman modern seperti saat ini, di manakah kita bisa menemukan jawara?
“Jawara itu bagian dari masyarakat. Namun sekarang lebih dominan yang ngajawara,” kata sejarawan Bonnie Triyana.
Pernyataan Bonnie Triyana ini diperkuat oleh Prof. Tihami dalam pengantarnya di buku Golok dan Tasbih karya Muhammad Hudaeri (Biro Humas Setda Provinis Banten, Oktober 2005), bahwa seiring perkembangan social, jawara telah tumbuh menjadi subkultur yang dominan. Waktu pemerintahan kolonial, jawara dicap sebagai biang keonaran. Masyarakat pun mencap mereka dengan citra negative, sombong, kurang taat beribadah, dan lebih mengedepankan kekerasan untuk kepentingan dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar