Kamis, 12 Januari 2017

Essai : Mama IQku Berapa?

Mengapa anak (manusia) perlu dan harus dididik? Sama halnya juga dengan mengapa anak (manusia) harus belajar? Agaknya kita perlu sependapat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk hidup yang baru dilahirkan sangat tidak berdaya seperti bayi manusia. Sebaliknya, tidak ada makhluk lain di dunia ini yang setelah dewasa mampu menciptakan apa yang telah diciptakan manusia dewasa. Jika bayi yang baru dilahirkan tidak mendapat bantuan dari manusia dewasa yang lain, tidak belajar, maka tidak selamatlah ia. Ia tidak mampu hidup sebagai manusia jika ia tidak dididik atau diajar oleh manusia, begitu juga dengan makhluk yang lainnya. Setiap anak (manusia) membawa naluri dan potensi yang berbeda-beda dari awal ia dilahirkan. Naluri dan potensi-potensi tersebut perlu dikembangkan untuk kelangsungan hidupnya, karena manusia adalah makhluk sosial dan budaya berbeda dengan hewan. Manusia mempunyai kewajiban untuk terus dan selalu belajar kapanpun dan dimanapun ia berada. Belajar disini tidak hanya berpacuan kepada kegiatan menulis atau membaca di Sekolah, tapi belajar disini adalah bagaimana kita bisa menghargai waktu yang kita miliki untuk dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.
Seringkali kita berpendapat bahwa anak yang pintar adalah anak yang mampu menyelesaikan soal fisika atau matematika di kelas, dapat menghafal pelajaran sejarah dengan baik, atau anak yang mendapat nilai 10 dalam ulangan biologi. Tapi bagaimana dengan anak yang susah menghafal, tidak bisa menghitung, tapi ia pandai memainkan alat musik piano, apakah ia berarti tidak pintar? Apakah itu hanya merupakan bakat? Keseimbangan otak kanan dan otak kiri perlu kita perhatikan dalam permasalahan ini. Bukan berarti yang bisa menghitung yang bisa disebut pandai dan yang bisa bermain piano yang mempunyai bakat.
Setiap individu manusia masing-masing mempunyai 3 sistem otak di dalam tubuhnya. Ada otak kanan, otak tengah, dan otak kiri. Masing-masing mempunyai peran dan fungsi yang berbeda. Otak kanan merupakan otak yang mengatur sistem dalam tubuh kita mengenai keahlian atau kepandaian kita dalam bidang keindahan dan fisik, seperti kemampuan atau selera kita dalam bidang seni musik, seni tari, seni lukis, olahraga, menulis cerpen, dan lain sebagainya. Untuk pengembangan intelektual otak kanan ini di beberapa negara maju telah dikhususkan untuk pengembangannya. Seperti sekolah-sekolah seni musik, tari, dan lain-lain, namun tetap menyetarakan level atau tingkatannya dengan sekolah-sekolah formal biasa. Tidak ada perlakuan sebelah mata terhadap siswa yang lebih unggul dalam pengembangan otak kanan daripada otak kiri, justru sebaliknya, sekolah-sekolah tersebut bisa menghasilkan kesuksesan. Terbukti dengan terlahirnya atlet-atlet dan musisi-musisi international yang menghasilkan banyak prestasi, karena sukses itu dilihat ketika ia bisa memberi apa bukan ketika ia mendapat rangking berapa di kelas. Salah satu ciri dari pengguna sistem ini adalah ia kurang berminat untuk mendapatkan nilai lebih dari gurunya di kelas dan terlihat lebih santai. Selanjutnya adalah otak tengah, bagaimana dengan pengendalian sistem ini, apakah sama dengan pengendalian sistem otak kanan? Tentu tidak. Sampai saat ini tidak banyak orang yang faham mengenai sistem pengendalian otak tengah ini, bahkan mungkin masih ada yang belum mengetahui tentang keberadaan otak tengah ini dalam tubuh kita. Otak tengah merupakan intelektual atau kemampuan yang bisa kita kembangkan taraf dan kegunannya. Manusia yang bisa menggunakan otak tengah ini selalu berpikir out the box (di luar kebiasaan). Bagaimana seseorang dapat menebak berapa jumlah pensil dalam tempat pensil dalam keadaan mata tertutup, dapat melepas borgol di tangannya tanpa bantuan alat apapun, dan lain sebagainya. Sama halnya dengan otak kanan, otak tengahpun di beberapa negara maju telah diperhatikan keberadaannya, dengan didirikan sekolah-sekolah khusus untuk pengaktifan sistem otak tengah. Karena otak tengah ini membutuhkan rangsangan tersendiri untuk pengaktifannya, itu sebabnya tidak semua orang  mempunya sistem otak ini. Tapi ternyata yang sebenarnya adalah setiap manusia memiliki sistem otak tengah, hanya saja kita belum mengaktifkannya sehingga kemampuan dari sistem ini seperti tidak kita miliki. Karena sistem ini membutuhkan pengaktifan khusus atau tersendiri. Terakhir adalah sistem otak kiri. Bagaimana kita bisa mengetahui kemampuan kita ada disini? Otak kiri merupakan sistem yang mengatur kita dalam bidang akademik. Seperti kecepatan dalam menghafal pelajaran, menghitung, dan lain sebagainya. Beruntung karena banyak orang terutama orang awam menganggap manusia yang mempunyai kemampuan disistem ini merupakan itulah manusia yang pandai. Meskipun sebenarnya tidak demikian.
Ada beberapa cara untuk kita mengetahui sebanyak atau sejauh apa kemampuan intelejensi kita. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti tes IQ. Pertanyaan-pertanyaan pada tes tersebut tidak memihak pada salah satu sistem otak saja. Otak kanan, otak tengah, atau kiri. Tapi pertanyaan-pertanyaan tersebut menyeimbangkan pada semua kemampuan. Biasanya setiap anak (manusia) memiliki satu kehlian atau kemampuan khusus yang menjadi tolak ukur kesuksesannya, entah itu dari pengendalian sistem otak kanan, otak tengah, atau otak kiri. Semua sistem ini membutuhkan pengolahan yang tepat untuk terus digali dan ditambah tingkatannya. Kesalahan yang paling sering dilakukan manusia adalah cepat berpuas diri, kesalahan ini diperparah dengan anggapan bahwa dirinya mempunya pribadi yang baik, bahkan sangat baik. Anggapan seperti ini tentu tidak sepenuhnya salah, sifat yang fitriyah jika kita menganggap pribadi kita baik, mengumbar kebahagiaan, dan merasa sedih jika kecewa, namun untuk meminimalisir atau mengurangi hal-hal tersebut, dibutuhkan pembelajaran yang lebih pada diri kita. Baik ilmu yang diserap untuk jasmani melalui tiga sistem otak tersebut ataupun ilmu yang diserap untuk rohani melalui pendalaman ilmu agama dan kepercayaan

Essai : Demokrasi Milik Siapa?

Khilafah, arti penting dalam suatu kepemimpinan. Tidaklah arti khilafah itu pemimpin yg besar, bukan?  Sejarahnya Indonesia itu negara yang maju, negara yang sukses dengan keberanekaragaman budaya dan hartanya. Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia. Mungkin manusia bisa lupa tetapi alam tak akan bisa ingkar pada jati dirinya bahwa alam-alam yang kaya itu pernah berada di tangan kita, tangan besar bangsa Indonesia. Kita memiliki alam Papua, alam Sumatera, alam Bali, dan alam-alam besar lainnya yang kini hanya menumpang jasadnya di tanah air kita. Hasil dari minyak bumi, gas alam, tambang emas, kayu-kayu jati, bangsa lain yang menikmati tapi jasadnya kita yang memiliki. Kenapa bangsa ini terlihat begitu kecil? Bahkan sangat kecil sampai untuk berbicarapun dia tak mampu. Ketika dia ingin berkata ternyata ejaan yang belum sempurna menjadi kalimat itu-pun mengundang mereka yang memiliki ruh tanah Papua itu untuk datang. Dan akhirnya ruh itu dia “Sang Penguasa Demokrasi” tambahkan deritanya dengan menambah waktu jual hasil bumi Papua Indonesia kepada bangsa lain yang pintar samapai tahun 2041. Sampai kapan bumi kita ini akan terus dinikmati mereka? Jika bangsa Eropa, Amerika, mereka semua mampu menjajah ruh isi bumi kita, kenapa pemimpin-pemimpin kita menikmati dengan adanya itu? Betapa kecilnya kita ketika kita mendengar para ilmuan Amerika berkata “1% kekayaan yang kita miliki untuk dinikmati 99% rakyat Amerika,dan 1% kekayaan yang mereka miliki untuk dinikmati 99% bangsa kita”.
Sungguh kecil hati pemimpin bangsa kita ini karena dengan itu mereka merasa sebagai raja yang agung. Jika mereka sadar untuk apa mereka kita pilih, mereka akan berkata “saya dipilih untuk Indonesia yang lebih baik”. Saudara dipilih bukan dilotre meski kami tak kenal siapa saudara. Demokrasi itu memang membuat kita semua tidak saling mengenal. Tidak mengenal apa yang seharusnya bangsa ini butuhkan. Indonesia bukan negara kecil, Indonesia negara besar. Namun kita menjadi kecil ketika kita diam dengan suatu kesalahan yang ditutupi dengan baju yg berwujud raksasa besar dalam suatu kekuasaan. Jika kita tidak besar, kita tidak mungkin memiliki kekayaan alam hutan lindung sampai 9juta hektar. Jika pemerintah jujur kita mengambil hasil hanya 20% pun dari setiap pohon jati dari hutan lindung yang kita jual, dengan harga 1-2 juta per pohon, maka negara kita sudah mendapat 1000 triliun lebih tiap tahunnya. Namun kemana mental-mental kejujuran itu? Apakah ini yang kita harapkan dari pemimpin-pemimpin negeri  kita yang kita pilih sendiri dari presiden sampai jajaran terendah bapak ketua RT? Untuk apa kita memilih? Untuk apa mereka dipilih? Untuk siapa kita memilih? Mungkin orang bijak bisa berkata, “pemilihan yang adil dilakukan dengan cara demokrasi”. Tapi ketika rakyat kecil mencoba untuk belajar berbicara “demokrasi apa yang kita miliki saat ini? Demokrasi seperti apa yang harusnya terjadi?” si kecil itupun takkan mampu untuk bertahan dengan pertanyaan yang ia miliki itu.
Masih banyak di luar sana rakyat kita yang trauma dengan politik negeri ini. Seolah acuh dan tak peduli dengan kebisingan juga debu-debu politik yang tak tersembunyi lagi di negeri kita. Sesungguhnya politik negeri itu tidak mengenal usia, pangkat, dan jabatan. Jika kita ingin merubah negeri ini dengan undang-undang yang lebih sesuai dengan rakyat, maka ikutlah untuk turut adil di dalam perubahannya. Jika kita ingin membuat perubahan baju dalam hukum yang adil di negeri ini, maka masuklah dalam perubahannya.
Negeri ini sudah tua, negeri ini bukan lagi balita yang harus selalu disuapi dengan berbagai macam gizi dan vitamin yang sehat. Tapi jika negeri ini masih digeluti dengan mental-mental pemimpin yang rakus dan tamak, maka tak salah jika negeri ini dianggap seperti bayi yang hanya bisa menatap dan mencengkram erat jari telunjuk ibunya seolah tak mengerti apa-apa namun ternyata di dalam otaknya  ia berpikir keras tentang keadaan disekitarnya. Itulah gambaran bangsa ini. Bangsa yang rentan, bangsa yang polos, dan bangsa yang mempunya sejuta harapan dimasa depan ketika ia besar nanti. Bangsa ini tahu, sesungguhnya bukan lembaga-lambaga besar yang ia butuhkan, bukan sistem operasi yang baru yang ia butuhkan. Karena semakin banyak lembaga anti korupsi, sistem pemerintahan baru, pemimpin-pemimpin baru, maka akan semakin banyak pula kesempatan dan peluang orang-orang licik itu untuk berbuat dan menjadikan bangsa ini hancur. Tapi yang dibutuhkan bangsa ini adalah penanaman karakter yang tepat dain baik, sehingga bisa melahirkan generasi-generasi penerus yang tepat, yang dibutuhkan oleh bangsa ini. Karakter itu ada dalam diri kita, fitriah anugerah yang manusia miliki. Ketika senang ia akan berusaha untuk mengumbar kesenangannya kepada orang lain, ketika sedih ia akan merasa sendiri. Pembentukan karakterlah yang mempunyai peran utama dalam kesuksesan negeri ini. Negeri ini bukan satu, negeri ini banyak. Banyak karakter yang aktif dan tumbuh dalam kepala negeri ini. Indonesia bisa!

Essai : Titip Harap Untuk Regenerasi Terbaik

  Eksistensialisme  menjadi salah satu ciri pemikiran filsafat abad XX yang sangat mendambakan adanya otonomi dan  kebebasan manusia yang sangat besar untuk mengaktualisasikan dirinya. Dari perspektif eksistensialisme, pendidikan sejatinya adalah upaya pembebasan manusia dari belenggu-belenggu yang mengungkungnya sehingga terwujudlah eksistensi manusia ke arah yang lebih humanis dan beradab. Filsafat ini memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas.
            Mahasiswa sebagai insan intelektual  yang menduduki lapisan kedua dalam masyarakat. Lapisan pertama adalah rakyat sipil dan lapisan ketiga dalam hal ini adalah pemerintah. Mahasiswa memiliki peran sebagai penghubung dari kedua lapisan ini. Ilmu, non-political importance membuat mahasiswa menjadi insan yang berpenglihatan luas dalam memandang dan mengkritisi segala persoalan bangsa ini dan segala kebijakan yang ada untuk kepentingan rakyat. Belajar dari sejarah, perubahan-perubahan besar bangsa ini dimulai oleh mahasiswa. Tahun ’45 perjuangan yang dilakukan oleh Bung Karno dibantu oleh mahasiswa Stovia, berakhirnya rezim Soeharto dipelopori mahasiswa-mahasiswa yang merasakan bahwa rakyat tertekan dan terotorisasi dalam negaranya sendiri. Pergerakan mahasiswa penting untuk control sosial dalam suatu bangsa terhadap pemerintahnya. Mahasiswa Indonesia harus memiliki cara yang relevan dan intelek dalam pergerakannya.
Kenapa harus mahasiswa? Mahasiswa memiliki bekal berupa ilmu untuk memahami fenomena-fenomena yang ada dalam suatu bangsa dan dapat menjelaskannya secara ilmiah sesuai bidang keilmuan mereka terhadap masyarakat dan lingkungannya sehingga masyarakat dapat memahami suatu fenomena itu baik atau buruk, menguntungkan atau merugikan sehingga masyarakat tidak lagi mudah ditunggangi oleh kepentingan politik kelompok tertentu. Pergerakan mahasiswa dapat dipahami dalam arti luas. Pergerakan mahasiswa zaman rezim Soeharto, zaman tuntutan mahasiswa terhadap reformasi, aksi bakar ban, turun ke jalan, dan blokade lalu lintas sudah tidak lagi menjadi pergerakan mahasiswa yang relevan untuk masa kita sekarang. Aksi seperti ini bisa saja relevan setelah adanya kajian, pemahaman yang sekiranya aksi turun ke jalan dirasa perlu, namun tetap posisinya harus menjadi last option bagi konteks pergerakan mahasiswa. Mahasiswa sebagai kaum intelektual bukan lah tipe masyarakat yang langsung turun ke jalan untuk menyuarakan suara mereka yang belum tentu mereka pahami apa yang mereka bela dan suarakan. Sudah barang tentu mahasiswa mengkaji terlebih dahulu permasalahan yang ada sesuai dengan ilmu yang mereka miliki, pahami, dan jangan sampai seorang mahasiswa tidak memiliki argument yang kuat dan pemahaman saat mereka melakukan aksi dalam pergerakan mahasiswa. Bergeraklah sebagai insane intelek sebagai pilihan-pilihan awal dengan melalui tulisan di media massa, memberikan penyuluhan dalam masyarakat tentang fenomena-fenomena bangsa ini, dan mengajar karena Bung Karno dan tokoh nasiona kita lainnya memulai perjuangannya dengan mengajar, tentu saja mengajar disini memiliki arti dan cakupan yang luas. Ajarkan bangsa ini dan cerdaskan bangsa ini.
Mahasiswa memiliki kelebihan tersendiri, yaitu mata yang masih jernih yang belum tertutup berbagai  kepentingan tertentu yang menjadikannya munafik dalam membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Mereka masih muda, cerdas, dan tidak terikat kepentingan politik tertentu sehingga ideaqlisme mereka terjaga. Mahasiswa pada masa kita sekarang, sepatutnya tidak lagi melakukan pergerakan dengan cara-cara dramatis seperti layaknya image yang timbul di masyarakat tentang apa itu pergerakan mahasiswa. Bagi kaum intelektual ini, langkah yang relevan harus lebih ditujukan pada pergerakan lewat media massa dengan tulisan, melakukan penyuluhan terhadap masyarakat, dan langkah lainnya yang sifatnya menyadarkan masyarakat Indonesia dan membuka mata mereka terhadap segala fenomena kebijakan pemerintah yang ada, bukan dengan aksi “Chaotic” di jalan-jalan. Mahasiswa sebagai ujung tombak kebangkitan bangsa ini. Bangsa ini tidak lumpuh,  tidak juga mati. Bangsa ini hanya tertidur dan menunggu untuk dibangunkan. Mahasiswa bangunkan bangsa kita tercinta dari tidur panjangnya untuk mencengkram dunia.
Sebagai seorang pembelajar dan bagian masyarakat , maka mahasiswa memiliki peran yang kompleks dan menyeluruh sehingga dikelompokkan dalam tiga fungsi : agent of change, social control and iron stock. Dengan fungsi tersebut, tentu saja tidak dapat dipungkiri bagaimana peran besar yang diemban mahasiswa untuk mewujudkan perubahan bangsa. Ide dan pemikiran cerdas seorang mahasiswa mampu merubah paradigma yang berkembang dalam suatu kelompok dan menjadikannya terarah sesuai kepentingan bersama. Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar dan membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah dan cemas. Dan satu hal yang menjadi kebanggaan mahasiswa mahasiswa adalah semangat membara untuk melakukan sebuah perubahan.
Sebagai agen perubahan, mahasiswa bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah negri lalu dengan gagahnya sang pahlawan mengusir penjahat-penjahat yang merajalela dan dengan gagah pula sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan penduduk setempat.
       Mahasiswa bukan hanya sekedar agen perubahan seperti pahlawan tersebut, mahasiswa sepantasnya menjadi agen pemberdayaan setelah peubahan yang berperan dalam pembangunan fisik dan non fisik sebuah bangsa yang kemudian ditunjang dengan fungsi mahasiswa selanjutnya yaitu social control, kontrol budaya, kontrol masyarakat, dan kontrol individu sehingga menutup celah-celah adanya kezaliman. Mahasiswa bukan sebagai pengamat dalam peran ini, namun mahasiswa juga dituntut sebagai pelaku dalam masyarakat, karena tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa merupakan bagian masyarakat.
Idealnya, mahasiswa menjadi panutan dalam masyarakat, berlandaskan dengan pengetahuannya, dengan tingkat pendidikannya, norma-norma yang berlaku disekitarnya, dan pola berfikirnya. Namun, kenyataan dilapangan berbeda dari yang diharapkan, mahasiswa cenderung hanya mndalami ilmu-ilmu teori di bangku perkuliahan dan sedikit sekali diantaranya yang berkontak dengan masyarakat, walaupun ada sebagian mahasiswa yang mulai melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui program-program pengabdian masyarakat.
       Mahasiswa yang acuh terhadap masyarakat mengalami kerugian yang besar jika ditinjau dari segi hubungan keharmonisan dan penerapan ilmu. Dari segi keharmonisan, mahasiswa tersebut sudah menutup diri dari lingkungan sekitarnya sehingga muncul
sikap apatis dan hilangnya silaturrahim seiring hilangnya harapan masyarakat kepada mahasiswa. Dari segi penerapan ilmu, mahasiswa ynag acuh akan menyianyiakan ilmu yang didapat di perguruan tinggi, mahasiswa terhenti dalam pergerakan dan menjadi sangat kurang kuantitas sumbangsih ilmu pada masyarakat.
        Lalu jika mahasiswa acuh dan tidak peduli dengan lingkungan, maka harapan seperti apa yang pantas disematkan pada pundak mahasiswa. Mahasiswa sebagai iron stock berarti mahasiswa seorang calon pemimpin bangsa masa depan, menggantikan generasi yang telah ada dan melanjutkan tongkat estafet pembangunan dan perubahan. Untuk menjadi iron stock, tidak cukup mahasiswa hanya memupuk diri dengan ilmu spesifik saja. Perlu adanya soft skill lain yang harus dimiliki mahasiswa seperti kepemimpinan, kemampuan memposisiskan diri, interaksi lintas generasi dan sensitivitas yang tinggi. Pertanyaannya, sebagai seorang mahasiswa, apakah kita sudah memiliki itu semua ?
Maka komplekslah peran mahasiswa itu sebagai pembelajar sekaligus pemberdaya yang ditopang dalam tiga peran: agent of change, social control, and iron stock. Hingga suatu saat nanti, bangsa ini akan menyadari bahwa mahasiswa adalah generasi yang ditunggu-tunggu bangsa ini.

Aliran-aliran Filsafat Pendidikan

Aliran-aliran Filsafat Pendidikan
1. Filsafat Pendidikan Idealisme 2. Filsafat Pendidikan Realisme 3. Filsafat Pendidikan Materialisme 4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme 5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme 6. Filsafat Pendidikan Progresivisme 7. Filsafat Pendidikan esensialisme 8. Filsafat Pendidikan Perenialisme 9. Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme
Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
        Beberapa tokoh dalam aliran ini: Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich. Filsafat eksistensialisme memfokuskan pembahasan pada pengalaman-pengalaman individu. Eksistensialisme merupakan filsafat yang memandang segala gejala berpangkal pada eksistensi. Sedangkan eksistensi itu sendiri ialah cara manusia berada di dunia. Sedangkan filsafat eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dalam dunia; ia menyadari dirinya berada di dunia. Manusia menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti yang dihadapinya itu. Manusia mengerti guna pohon, batu dan salah satu di antaranya ialah ia mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti. Artinya bahwa manusia sebagai subyek. Subyek artinya yang menyadari, yang sadar. Barang-barang yang disadarinya disebut obyek. Eksistensialisme menjadi salah satu ciri pemikiran filsafat abad XX yang sangat mendambakan adanya otonomi dan kebebasan manusia yang sangat besar untuk mengaktualisasikan dirinya. Dari perspektif eksistensialisme, pendidikan sejatinya adalah upaya pembebasan manusia dari belenggu-belenggu yang mengungkungnya sehingga terwujudlah eksistensi manusia ke arah yang lebih humanis dan beradab. Keunikan filsafat eksistensialisme yaitu memfokuskan pembahasan pada masalah-masalah individu. Dimana, eksistensialisme memberi individu suatu jalan berpikir mengenai kehidupan, apa maknanya bagi saya, apa yang benar untuk saya. Secara umum, eksistensialisme menekankan pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan konkret dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakikat manusia atau realitas. Beberapa pemikiran eksistensialisme dapat menjadi landasan atau semacam bahan renungan bagi para pendidik agar proses pendidikan yang dilakukan semakin mengarah pada keautentikan dan pembebasan manusia yang sesungguhnya. 
  •  Konsep Dasar Filsafat Eksistensialisme 1. Realitas Realitas adalah kenyataan hidup itu sendiri. Untuk menggambarkan realitas, kita harus menggambarkan apa yang ada dalam diri kita, bukan yang ada diluar kondisi manusia. Bagi eksistensialisme, benda-benda materi, alam fisik, dunia yang berada diluar manusia tidak akan bermakna atau tidak memiliki tujuan apa-apa kalau terpisah dari manusia. Jadi, dunia ini bermakna karena manusia. 2. Pengetahuan Pengetahuan manusia tergantung pada pemahamannya tentang realitas dan tergantung pada interpretasi manusia terhadap realitas. Pelajaran di sekolah akan dijadikan alat untuk merealisasikan diri, bukan merupakan suatu disiplin yang kaku dimana anak harus patuh dan tunduk pada isi pelajaran tersebut. Biarkanlah pribadi anak berkembang untuk menemukan kebenaran-kebenaran dalam kebenaran. 3. Nilai Pemahaman eksistensialisme pada nilai, menekankan kebebasan dalam tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan diantara pilihan-pilihan yang terbaik adalah yang paling sukar. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang harus menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tidak pernah selesai, karena setiap akibat akan menghasilkan kebutuhan untuk pilihan berikutnya.
  • Implikasi Aliran Filsafat Eksistensialisme Dalam Dunia Pendidikan Filsafat ini memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Eksistensialisme sebagai filsafat sangat menekankan individulitas dan pemenuhan diri secara pribadi. Setiap individu dipandang sebagai makhluk unik, dan secara unik pula ia bertanggungjawab terhadap nasibnya. Dalam hubungannya dengan pendidikan, eksistensialisme berhubungan sangat erat dengan pendidikan karena keduanya bersinggungan satu sama lain pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup, hubungan antar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan (kemerdekaan). Pusat pembicaraan eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia. Cara bagaimana manusia bereksistensi di hadapan Tuhan dipersulit kenyataan bahwa hidup sosial manusia dan kebudayaan sangat cepat berubah sehingga menyebabkan krisis-krisis, baik krisis sosial kultural maupun individual batiniah, sehingga eksistensi manusia sangat ditentukan oleh bagaimana menyelesaikan krisis tersebut.

Rabu, 07 Januari 2015

Seperti "PADI".



Seperti “PADI”

Karakter manusia terbentuk melalui kehendak dan pengalaman yang telah dialami. Karakter yang terbentuk akan menuntun manusia dalam bersikap terhadap suatu kondisi di hidupnya. Semakin tinggi pengetahuan, kekayaan ataupun faktor x lainnya, terkadang membuat seseorang menjadi angkuh ataupun merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari yang lainnya. Terbersit mengenai filosofi padi yaitu tanaman padi biasanya semakin berisi akan semakin merunduk. Mengapa manusia sulit melakukan hal tersebut? Hal ini terjadi karena faktor ego yang menguasai pemikiran individu tersebut.
Seperti padi yang semakin berisi maka semakin merunduk,manusiapun seharusnya seperti itu. Ketika seseorang memiliki faktor x yang lebih jika dibandingkan dengan yang lainnya, maka seharusnya orang tersebut tetap rendah hati dan mengayomi orang disekelilingnya. Karena jika kita merasa ‘lebih’ jika dibandingkan dengan yang lain, sesungguhnya banyak orang yang memiliki kelebihan yang lebih tinggi daripada kita.
Seperti pribahasa yang mengatakan “di atas langit masih ada langit”. Karakter yang baik akan menjauhkan kita dari sifat  sombong, tinggi hati dan lain-lain. Pendidikan karakter sangat diperlukan untuk membatasi ego menguasai diri seseorang. Tidak ada manusia yang dapat melihat perubahan warna padi dari hijau menjadi kuning. Oleh karena itu,sesungguhnya tidak ada yang pantas kita sombongkan karena tidak ada manusia yang sempurna dalam menjalankan kehidupannya dan memiliki keterbatasan tertentu dalam mengetahui hal-hal yang belum diketahui sampai saat ini. Semakin kita banyak mengetahui sesuatu,maka semakin banyak pula hal yang tidak kita ketahui.

[INDEX] Daftar Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan

[INDEX] Daftar Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan/ Rike Purnama/ Matematika 7 B /(2225132208)

1. Generasi Berkarakter. Generasi Pendobrak Kemajuan Bangsa
2. Pemimpin Masa Depan “Sang Generasi Platinum”
3. artikel aksi .Tingkatkan Kualitas Perguruan Tinggi
4. Seperti "PADI"
5. pertanyaan
6. Mat 3B/23(085719178409)Neo Positivisme Terhadap Pendidikan
7. Ref_Mat_3B / 23 (Neo Positivisme Terhadap Pendidikan)
8. ppt Neo Positivisme
9. Syafruddin Prawiranegara “Presiden Yang Terlupakan”
10. Prasasti Batu Tulis Ciaruteun Dan Misterinya
11. Mengapa Disebut Kota Bogor?
12. Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan
13. Essai : Titip Harap Untuk Regenerasi Terbaik
14. Essai : Demokrasi Milik Siapa?
15. Essai : Mama IQku Berapa?
16. Essai : Menasionalkan UNTIRTA
17. Ronggo Warsito
18. Dinamika Pelaksanaan Penegakkan Hukum di Indonesia
19. Kedudukan Bahasa Indonesia
20. Pentingnya Manajemen Kesiswaan
21. Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
22. Fungsi Utama Filsafat Pancasila Bagi Bangsa Dan Negara
23. Pengaruh Pembelajaran Sastra Pada Anak
24. Puncak kejayaan Islam Di Andalusia
25. Tan Malaka "Pahlawan Islam Yang Terlupakan"
26. Tokoh Tokoh Aliran Filsafat Islam
27.Gender Dalam Persepektif Islam
28. Generasi Platinum Abad 21
29. Pulau Cangkir
30. Aliran Materialisme
31. Guru dan Tunjangan Profesi
32. Sejarah Benteng Pendem Cilacap
33. Mitos dan Filosofi Bunga Edelweis
34. Filsafat Pendidikan (Realisme)
35. Teman Sebaya dalam Pendidikan
36. Sejarah Matematika
37. Hakikat Manusia
38.  Akar Permasalahan Rendahnya Mutu Pendidikan
39. Sumber Pengetahuan dan Kriteria Kebenaran
40. Islam dan Dunia Kontemporer
41. Berpikir Filsafat
42. Filosofi Kopi
43. Idealisme VS Realistis
44. Filosofi Pohon Kelapa
45. Netral
46. Antara Emas dan Seni Dalam Kehidupan
47. Seorang Pemimpin
48. Konsep Pendidikan Dan Implikasinya Untuik Mencapai Keberhasilan
49. Pendidikan Berbasis Masyarakat
50.  Keseimbangan Otak Dan Hati
51. Aliran Empirisme
52. Filosofi Pelangi
53. Filosofi + dan -
54. Matematika Sebagai Ratu
55. Pragmatisme dam Implikasinya Dalam Pendidikan
56.  Manusia dan Kehidupan Sosialnya
57. Jangan Remehkan Angka 0
58. Filsafat dan Pendidikan
59. Pohon
60. Tokoh dalam Filsafat Pendidikan
61. Aliran Rekontruksionisme dalam Filsafat
62. Belajar dari Tumbuhan Putri Malu
63. Banten JAWARA
64. Ontologis Serang
65. Dikotomi Pendidikan
66. Sejarah dan Perkembangan Filsafat Barat
67. Konsep Ketuhanan Dalam Islam
68. Bogor, Kota Tua Penuh Cinta
69. Krisis Pendidikan
70. Aliran Strukturalisme
71. Sila Kelima yang Hilang
72. Esensial Mengenai Pandanggan Filsafat
73. Pendidikan Islam Berbasis Multikultural
74. Manusia Menjadi Lebih Baik Dengan Masalah
75. Filosofi Bunga Teratai
76. Filosofi Air
77. Filosofi Warna Putih
78.. Filosofi Bunga Mawar
79. Filsafat dan Teologi
80. Filsafat dan Globalisasi
81. Filosofi Permainan Congklak
82. Filosofi Payung
83. Filosofi Lingkaran
84. Filsafat Naturalisme
85. Filsafat Tiga Hewan Dalam Al-Qur'an
86. Teori Kebenaran dan Pandangan Filsuf
87.  Aliran Filsafat Eksistensialisme
88. Dinamika Hidup Dikalangan Remaja Saat Ini
89. Manfaat Mempelajari Filsafat
90. Sejarah dan Arti Lambang Negara Indonesia
91. Persoalan Filsafat
92. Pengaruh Idealisme Di Ruang Kelas
93. TAN MALAKA
94. Islam Dan Andalusia
95. Dari Ragu Menjadi Tahu
96. Berfilsafat, Haruskah Melepas Agama?
97. Cerita Motivasi Dari Seorang Filsuf Sombong
98. Tingkatkan Kualitas Perguruan Tinggi
99. Filosofi Cermin
100. Filosofi Pohon Pisang







Generasi Berkarakter . Generasi Pendobrak Kemajuan Bangsa

Generasi Berkarakter. Generasi Pendobrak Kemajuan Bangsa

Karakter merupakan hal penting yang sangan memengaruhi kepribadian seseorang. Karakter tidak dapat diwariskan,tidak dapat dibeli dan tidak dapat ditukar. Karakter harus dibentuk dan dikembangkan sendiri oleh masing-masing individu, karena karakter dapat terbentuk dan berkembang melalui proses belajar dan pengalaman panjang seseorang . Karakter seseorang dapat berubah sesuai kehendak dan proses hidup yang ia alami.

Karakter akan sangat mempengaruhi bagaimana orang memandang kita. Seseorang yang memiliki karakter yang baik akan dipandang dan disegani oleh orang lain, begitupun sebaliknya. Karakter memiliki nilai penting bagi masa depan seseorang. Seseorang yang berkarakter baik akan hidup sesuai dengan kaidah dan norma yang berlaku dan tidak akan berprilaku buruk.

Setiap orang bertanggung jawab dan memiliki kendali penuh atas karakter yang dimilikinya. Penguatan pendidikan karakter sangat penting mengingat negara kita sedang dilanda krisis jati diri sebagai bangsa Indonesia. Banyak permasalahan sosial yang terjadi seperti maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian, kenakalan remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi dan lain sebagainya yang sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila.

Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Generasi penerus yang berkualitas akan membawa negara ini menjadi negara yang lebih maju kedepannya.

Menurut hasil penelitian sejarawan muslim klasik Ibnu Khaldun. Dalam 100 tahun perjalanan suatu bangsa akan lahir empat model pemuda. Pertama, generasi pendobrak. Mereka berani melakukan perubahan secara mendasar. Kedua, generasi pembangun. Dengan segala kesederhanaan dan solitadaritas yang tulus tunduk di bawah ototiras kekuasan yang didukungnya, bekerja secara bersistem, memiliki rencana dan target yang terukur. Ketiga, generasi penikmat. Karena dituntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasan, mereka tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara. Mereka berpikir bagaimana menikmati daripada bekerja untuk membangun. Keempat, generasi masa bodoh. Mereka tidak lagimemiliki hubungan emosial dengan negara. Mereka melakukan apa saja yang mereka suka tanpa memedulikan nasib negara.

Di negara ini sepertinya pada pemuda banyak yang menjadi generasi penikmat dan masa bodoh karena kurang ditanamkan pendidikan berkarakter. Menurut Ibnu Khaldun, apabila generasi ketiga dan keempat telah mewarnai suatu negara, keruntuhan negara sudah di ambang pintu. Suatu peradaban dapat runtuh karena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewah dan tidak peduli terhadap nasib bangsanya.

Generasi Pendobrak perlu dikembangkan agar negara ini maju dan dapat bersaing dengan negara lain. Pendidikan berkarakter harus ditanamkan sejak dini,bukan hanya di sekolah tetapi juga di lingkungan keluarga. Karena seorang anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dibandingkan dengan di sekolah.

Generasi yang berkarakter akan menjadi tombak perjuangan di masa depan. Karena kelak generasi tersebutlah yang akan menjadi pemegang amanah untuk memimpin bangsa ini. Kunci Keberhasilan suatu negara bukan hanya berada di tangan pemimpin, melainkan di tangan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi di Negara ini. Pemerintah dan rakyat harus bahu membahu dan saling melengkapi untuk memajukan Negara ini.

DAFTAR PUSTAKA

http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-karakter/
https://www.facebook.com/notes/mohammad-nuh/generasi-pendobrak-generasi-entrepreneur/163781740498679