Kamis, 12 Januari 2017

Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

Kepemimpinan Pembelajaran

 Teori kepemimpinan adalah penggeneralisasian satu seri perilaku pemimpin dan konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menonjolkan latar belakang historis, sebab musabab timbulnya kepemimpinan, persyaratan menjadi pemimpin, sifat-sifat utama pemimpin, tugas pokok dan fungsinya, serta etika profesi kepemimpinan.
1.      Arti kepimpinan pembelajaran
Kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang memfokuskan pada pembelajaran yang secara terprinci meliputi: (1) kurikulum, (2) proses belajar mengajar, (3) asesmen,  (4) penilaian, (5) pengembangan guru, (6) layanan prima dalam pembelajaran, dan (7) pembangunan komunitas belajar di sekolah.
Peter dan Austin memberi pertimbangan spesifik pada kepemimpinan pendidikan dalam sebuah bab yang berjudul “Excellence in School Leadership  mereka memandang bahwa pemimpin pendidikan membutuhkan perspektif-perspektif berikut ini :
·   Visi dan simbol-simbol. Kepala sekolah harus mengkomunikasikan nilai-nilai institusi kepada para staf, para pelajar dan kepada komunitas yang lebih luas.
·   MBWA / management by walking about ( manajemen dengan melaksanakan ) adalah gaya kepemimpinan yang dibutuhkan bagi sebuah institusi.
·   Untuk para pelajar. Istilah ini sama dengan dekat dengan pelanggan dalam pendidikan. Ini memastikan bahwa institusi memiliki fokus yang jelas terhadap pelanggan utamanya.
·   Otonomi, eksperimentasi dan antisipasi terhadap kegagalan. Pemimpin pendidikan harus melakukan inovasi di antara staf-stafnya dan bersiap-siap mengantisipasi kegagalan yang mengiringi inovasi tersebut.
·   Menciptakan rasa kekeluargaan. Pemimpin harus menciptakan rasa kekeluargaan diantara para pelajar, orang tua, guru dan staf institusi.
·   Ketulusan, kesabaran, semangat, instensitas dan antusiasme. Sifat-sifat tersebut merupakan mutu personal esensial yang dibutuhkan pemimpin lembaga pendidikan.
2.       Tujuan kepemimpinan pembelajaran
Tujuan kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepada semua siswa agar mampu mengembangkan potensinya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan penuh dengan tantangan.
Dengan kata-kata lain, tujuan kepemimpinan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar siswanya meningkat dalam hal: (1) prestasi belajarnya, (2) kepuasan belajarnya, (3) motivasi belajarnya, (4) keingintahuannya, (5) kreativitasnya, (6) inovasinya, (7) jiwa kewirausahaannya, dan (8) kesadarannya untuk belajar sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni senantiasa berkembang dengan pesat.
3.       Manfaat kepemimpinan pembelajaran
Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena memberikan banyak manfaat, antara lain: (1) meningkatkan prestasi belajar peserta didik secara signifikan; (2) memberikan dorongan dan arahan terhadap warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didiknya; (3)  memfokuskan kegiatan-kegiatan warganya untuk menuju pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah; (4) membangun komunitas belajar warganya; dan (5) menjadikan sekolahnya sebagai sekolah belajar (learning school).
Indikator sekolah belajar dapat dilihat pada hal-hal sebagai berikut: (1) memberdayakan warga sekolah secara optimal, (2) memfasilitasi warga sekolah untuk belajar secara berkelanjutan, (3) mendorong kemandirian setiap warga sekolah, (4) memberi kewenangan dan tanggung jawab kepada warga sekolah (5) mendorong warga sekolah untuk bertanggung jawab terhadap proses dan hasil kerjanya, (6) mendorong teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan cepat tanggap terhadap peserta didik,(7) mengajak warga sekolah untuk fokus pada layanan siswa, (8) mengajak warga sekolah untuk siap dan akrab menghadapi perubahan, (9) mengajak warga sekolah untuk berpikir sistem, (10) mengajak warga sekolah memiliki komitmen terhadap keunggulan.
4.      Beberapa unsur dalam Kepemimpinan
Floyd Ruch dalam Gerungan (2002: hal. 129) menyebutkan tiga tugas utama pemimpin, yaitu: 1) structuring the situation, 2) controlling group-behavior, 3) spokesman of the group. Pada tugas yang pertama seorang pemimpin harus dapat mengkonstruksi struktur dari situasi yang dihadapi kelompoknya secara jelas agar para anggotanya dapat memahami situasi yang dihadapi mereka dan pada gilirannya mampu memberi penyikapan dan melakukan tindakan yang tepat. Tugas kedua yang harus dilaksanakan pemimpin adalah melakukan pengawasan dan pengontrolan/pengendalian perilaku kelompok. Agar suatu kelompok/organisasi dapat mencapai tujuan-tujuannya, maka semua orang yang ada di dalamnya harus berjalan atau melakukan aktivitas yang mengarah pada tujuan-tujuan tersebut. Sehingga apabila ada anggota kelompok yang ke luar jalur, maka tugas pemimpinlah yang ‘menyadarkan’ anggotanya tersebut untuk tetap ada di dalam ‘jalan yang benar.’ Tugas ketiga dari pemimpin adalah menjadi juru bicara dari kelompoknya mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan-keadaan di kelompoknya. Tentunya apa yang dibicarakan oleh pemimpin pada pihak lain itu haruslah merupakan gambaran nyata tentang kelompoknya, bukannya karangan pribadi pemimpin tersebut.
Al Muchtar (2001: hal. 252) menyebutkan sejumlah fungsi kepemimpinan, yakni: perencanaan, pemikir, organisator, dinamisator, koordinator, pemegang amanah, pengawas, penengah, pemersatu, pendidik, pembimbing, dan pelapor. Selanjutnya Al Muchtar mengungkapkan bahwa untuk dapat menjalankan fungsi-fungsi tersebut, pemimpin haruslah memiliki tiga keterampilan, yaitu: 1) technical skills (penguasaan organisasi mulai dari prosedur kerja sampai evaluasi hasil karya); 2) conceptual skills (merumuskan gagasan atau menjelaskan keadaan rumit ke dalam bentuk yang mudah dipahami oleh anggota kelompoknya), 3 human skills (hubungan sosial dan bekerja sama, dan lain-lain .). Pemimpin dalam melaksakan fungsi kepemimpinannya itu memiliki gayagaya tertentu. Gaya-gaya tersebut biasanya khas dan dapat diklasifikasikan ke dalam tiga, yaitu: otoriter, demokratis, dan laissez faire. Gaya kepemimpinan otoriter adalah suatu gaya kepemimpinan dimana pemimpin merupakan penentu segala aktivitas dalam kelompok termasuk standar-standarnya. Para anggota tidak diajak untuk berpartisipasi dalam proses penentuan/pengambil keputusan tentang segala sesuatu dalam organisasi. Gaya kepemimpinan demokratis menghendaki adanya partisipasi aktif dari anggota-anggotanya dalam organisasi termasuk dalam penentuan kebijakan yang diambil dalam organisasi. Sedangkan kepemimpinan laissez faire bersifat pasif. Pemimpin menyerahkan sepenuhnya segala sesuatu dalam organisasi pada para anggotanya termasuk dalam hal-hal yang bersifat strategi seperti penentuan arah organisasi.
5.      Dimensi kepemimpinan pembelajaran
Kepemimpinan pembelajaran yang efektif membutuhkan 12 kompetensi sebagai berikut: (1) mengartikulasikan pentingnya visi, misi, dan tujuan sekolah yang menekankan pada pembelajaran, (2) mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum, (3) membimbing pengembangan dan perbaikan proses belajar mengajar yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan kelas, (4) mengevaluasi kinerja guru dan mengembangannya, (5) membangun komunitas pembelajaran, (6) menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional, (7) melayani kegiatan siswa, (8) melakukan perbaikan secara terus menerus, (9) menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif, (10) memotivasi, mempengaruhi, dan mendukung prakarsa, kreativitas, inovasi, dan inisiasi pengembangan pembelajaran, (11) membangun teamwork yang kompak, dan (12) menginspirasi dan memberi contoh.
6.       Kontribusi kepemimpinan pembelajaran
Kepemimpinan pembelajaran tidak langsung bekerja pada proses pembelajaran di kelas, namun dengan kepemimpinan pembelajaran akan terbangun iklim akademik yang positif, komunikasi yang baik antar staf di sekolah, perumusan tuntutan akademik yang tinggi, dan tingginya tekad seluruh pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan sekolah. 
7.       Optimalisasi kepemimpinan pembelajaran
Secara teoritis ataupun praktis sudah tidak ada yang meragukan bahwa kepala sekolah sebagai leader merupakan figur sentral yang diharapkan mampu menerapkan kepemimpinan pembelajaran yang kuat dalam mewujudkan sekolah yang bermutu.
Berdasarkan Permendiknas RI Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah disebutkan bahwa seorang kepala sekolah untuk dapat menjalankan tugasnya secara baik harus memenuhi 5 kompetensi, yaitu: (1) kompetensi kepribadian, (2) kompetensi sosial, (3) kompetensi menajerial, (40 kompetensi suprvisi, dan (4) kompetensi kewirausahaan.
Dalam konteks kepemimpinan pembelajaran, Komisi Redesain Kepemimpinan Pembelajaran Kepala Sekolah di Tennesee, Amerika  Serikat (2007), merumuskan kompetensi praktis kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran hendaknya mewujudkan 7 kompetensi standar sebagai berikut.
No.
Standar
Tugas
1.
Standar A:
Peningkatan secara berkelanjutan
Melaksanakan pendekatan yang sistematik dan koheren untuk menuju peningkatan secara berkelanjutan dalam prestasi akademik seluruh siswa
2.
Standar B: Kultur pembelajaran
Menciptakan  kultur pembelajaran yang progresif/kondusif di sekolahnya agar hasil belajar siswa dapat ditingkatkan setinggi-tingginya.
3.
Standar C: Kepemimpinan -pembelajaran dan penilaian hasil belajar (Asesmen)
Memfasilitasi peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya berdasarkan hasil evaluasi dan dilakukan secara terus menerus dalam  rangka untuk meningkatkan  hasil belajar siswa seoptimal mungkin.
4.
Standar D: Pengembangan profesionalisme guru secara terus-tenerus
Melakukan  pengembangan  profesionalisme warga sekolahnya terutama guru yang dilakukan secara terus-menerus dalam  rangka untuk meningkatkan hasil belajar siswa seoptimal mungkin.
5.
Standar E: Manajemen sekolah
Memfasilitasi warga sekolah (guru, siswa, karyawan) agar menjadi pelajar yang baik dan mengembangkan pembelajaran yang efektif melalui pemanfaatan berbagai sumber belajar yang tersedia dan yang perlu disediakan jika belum ada.
6.
Standar F: Etika
Memfasilitasi peningkatan secara berkelanjutan dalam meningkatkan keberhasilan belajar siswa melalui proses pembelajaran yang sesuai dengan estándar etika paling tinggi dan mendorong pendampingan berupa tindakan politis apabila diperlukan.
7.
Standar G: Perbedaan
Memfasilitasi toleransi terhadap perbedaan latar belakang siswa, baik dari suku, agama, ras, jenis kelamin, dan asal usul.
·      Merumuskan dan mengartikulasi tujuan pembelajaran
·      Mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum
·      Membimbing pengembangan dan perbaikan proses pembelajaran
·      Mengevaluasi kinerja guru dan mengembangkannya
·      Membangun komunitas pembelajaran
·      Menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional
·      Melayani siswa dengan prima.
·      Melakukan perbaikan secara terus menerus
·      Menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif
·      Membangun warga sekolah agar pro perubahan
·      Membangun teamwork yang kompak
·      Memberi contoh dan menginspirasi warga sekolah
·      Menciptakan kultur bagi pembelajaran yang progresif/kondusif
·      Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap keberhasilan pembelajaran.
·      Menyediakan sebagian besar waktu untuk pembelajaran.
8.       Guru sebagai pemimpin dalam proses pembelajaran
Setiap guru yang mengajar suatu mata pelajaran adalah pemimpin dalam kelasnya.
Guru adalah pemimpin karena dia bertugas mempengaruhi perilaku belajar para siswanya.
8.1  Peran guru sebagai pemimpin :
1)       Mengajar, membantu dan memotivasi siswa untuk selalu menemukan cara memperbaiki dirinya dan dunianya.Siswa yang sudah mengalami pendidikan semacam itu akan mampu bertahan hidup dan menyesuaikan diri dalam lingkungan yang terus berubah.
2)      Guru yang bermutu tidak hanya senang membantu siswa yang cerdas, tetapi  juga terhadap siswa yang memerlukan waktu lebih lama untuk mempelajari sesuatu fakta atau konsep.
3)      Guru yang bermutu menciptakan iklim kelas yang kondusif bagi keberhasilan belajar semua siswa. Dia selalu mendorong siswa untuk mengembangkan daya intelektual dan daya emosinya guna mencapai pengetahuan yang superior dan kemampuan memecahkan masalah.
4)      Guru yang bermutu selalu memusatkan perhatiannya pada kepentingan siswa dan menumbuhkan perasaan selalu ingin tahu dan selalu ingin belajar.
5)      Guru yang bermutu selalu melakukan yang lebih baik, bersikap lebih fleksibel, dan selalu mempertanyakan segala sesuatu.
6)      Guru yang bermutu berusaha agar siswanya menjadi orang yang cemerlang.
7)      Guru yang bermutu selalu berusaha memberdayakan siswanya dan memperluas pengetahuannya, sehingga siswa memiliki daya dalam menghadapi berbagai situasi.
8)      Menerapkan MMT ataupun Perbaikan yang Berkelanjutan, berarti perubahan (yang berkesinambungan) pada diri siswa dan pada dirinya sendiri.
9)      Guru yang bermutu berperan membuat kelasnya menjadi  suatu tim untuk memecahkan berbagai persoalan. Jadi  tanggung jawab kelas pada semua orang, bukan hanya pada guru.
8.2  Tugas Guru Sebagai Pemimpin Pendidikan
1)      Berkomunikasi dengan jelas dan sabar.
2)      Memusatkan perhatian pada peserta didik.
3)      Membudayakan mutu (dalam segala hal).
4)      Mengadakan inovasi proses pembelajaran.
5)      Menampung aspirasi peserta didik.
6)      Menetapkan struktur tugas, kewajiban, tanggung-jawab dan hak masing-masing dalam kelas.
7)      Mengoreksi kebijaksanaan yang ada, bila perlu.
8)      Mengatasi kendala yang muncul dalam proses pembelajaran.
9)      Mengembangkan tim-tim kecil dalam pembelajaran.
10)  Mengembangkan mekanisme pemantauan dan  evaluasi keberhasilan secara terbuka dan adil.
11)  Mengadakan kaderisasi dalam bidang ilmu yang diasuh.
12)  Memberdayakan  peserta didik (Empowerment)
13)  Memotivasi peserta didik.
Guru pemegang peran penting dalam proses pembelajaran, hasil penelitian membuktikan bahwa 85% sistem pembelajaran dikendalikan oleh guru dan hanya 15% saja yang benar-benar usaha siswa.
Dalam pengelompokan siswa untuk memecahkan suatu masalah yang diberikan guru, guru harus bisa membagi kelompok-kelompok kecil dalam kelas secara heterogen. Agar terjadi keseimbangan pada setiap kelompok karena dalam satu kelompok terdapat siswa yang pintar, biasa, dan kurang pintar.
9.       Kepemimpinan yang aman, nyaman dan menyenangkan  
Dalam amanatnya mengenai masalah kepemimpinan berdasarkan falsafah Panca Sila, Jenderal Soeharto menyimpulkan beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin,
1.       Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu kesadaran beragama dan beriman teguh
2.       Hing ngarsa sung tulada, yaitu memberi suri-tauladan yang baik di hadapan anak buah.
3.       Hing madya mangun karsa, yaitu bergiat dan menggugah semangat di tengah-tengah masyarakat (anak buah).
4.       Tut Wuri handayani, yaitu memberi pengaruh baik dan mendorong dari belakang kepada anak buah.
5.       Waspada purba wisesa, yaitu mengawasi dan berani mengoreksi anak buah.
6.       Ambeg parama arta, yaitu memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan.
7.       Prasaja, yaitu bertingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan
8.       Satya, yaitu sikap loyal timbal balik dari atasan terhadap bawahan, dari bawahan terhadap atasan dan juga ke samping.
9.       Hemat, yaitu kesadaran dan kemampuan membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu untuk keperluan yang benar-benar penting.
10.   Sifat terbuka, yaitu kemauan, kerelaan, keikhlasan, dan keberanian untuk mempertanggung jawabkan tindakan-tindakannya.
11.   Penerusan, yaitu kemauan, kerelaan, dan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan tugas dan tanggung jawab serta kedudukan kepada generasi muda guna diteruskannya.
B.     Manajemen mutu terpadu
Mutu merupakan sebuah filosofi dan metodologi yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan. Manajemen mutu terpadu merupakan sebuah konsep yang mengaplikasikan berbagai prinsip mutu untuk menjamin suatu produk barang atau jasa memiliki spesifikasi. Pendekatan manajemen mutu dilakukan secara menyeluruh yaitu mulai dari input, proses, output, dan outcome. Dilakukan secara berkelanjutan untuk menunjukkan bahwa upaya mewujudkan mutu merupakan bagian kerja keseharian bukan sesuatu yang temporal (sewaktu-waktu). Semua komponen sistem organisasi diposisikan sebagai bagian untuk menjamin mutu dan disinergikan melalui kepemimpinan mutu. Beberapa isu yang dibuat oleh konferensi Dewan Mutu pada Mei 1990 (Ross, 1993:1-2) adalah sebagai berikut:
a. A cultural based on a management philosophy of meeting customer requirements trough continous improvement (satu perubahan budaya didasarkan pada filosofi manajemen sesuai dengan tuntutan pelanggan melalui perbaikan berkelanjutan).

b. Management behavior that includes acting as role models, use of quality processes and tools, encouraging communications, sponsoring feedback activities and a supporting environment (perilaku manajemen juga harus berperan sebagai model, menggunakan alat dan proses mutu, mendorong komunikasi, mensponsori umpan balik, dan mendukung lingkungan).
c. Mechanism of change including training, communications, recognition, teamwork, and   customer satisfaction program (mekanisme perubahan meliputi: pelatihan, komunikasi perubahan, pengenalan, kerjasama kelompok, dan program pemuasan pelanggan).

d. Implementing TQM by defining the mission, identifying system output, identifying customers, negotiating customers, requirements, developing a suppliers specification that details customer requirements and expectation, and determining the necessary required to fulfill those requirements and expectations. (pengimplikasian TQM dengan mendefinisikan misi, mengidentifikasi system output, bernegosiasi dengan tuntutan pelanggan, mengembangkan spesifikasi bagi supplier sebagaimana diharapkan dan dituntut pelanggan, dan menentukan syarat-syarat yang perlu untuk mengisi harapan dan tuntutan pelanggan).
12.  Gerakan mutu dalam pendidikan
Gerakan mutu terpadu dalam pendidikan masih tergolong baru. Hanya ada sedikit literatur yang memuat referensi tentang hal ini sebelum 1980an. Beberapa upaya reorganisasi terhadap praktik kerja dengan konsep TQM telah dilaksanakan oleh beberapa universitas di Amerika dan beberapa pendidikan tinggi lainnya di Inggris.
13.  Kontrol mutu, jaminan mutu, dan mutu terpadu
Kontrol mutu merupakan sebuah proses pasca produksi yang melacak dan menolak item-item yang cacat. Kontrol mutu biasanya dilakukan oleh pekerja-pekerja yang dikenal sebagai pemeriksa mitu. Inspeksi dan pemeriksaan adalah metode-metode umum dari kontrol mutu dan sudah digunakan secara luas dalam pendidikan untuk memeriksa apakah standar-standar telah dipenuhi atau belum. Jaminan mutu bertujuan untuk mencegah terjadi kesalahan sejak awal proses produksi. Jaminan mutu adalah sebuah cara memproduksi produk yang bebas dari cacat. Jaminan mutu lebih menekankan tanggungjawab tenaga kerja dibandingkan inspeksi kontrol mutu, meskipus sebenarnya inspeksi tersebut juga memiliki peranan dalam jaminan mutu.
TQM (Total Quality Manajemen) merupakan perluasan dan pengembangan dari jaminan mutu TQM adalah tentang usaha menciptakan sebuah mutu-mutu kultur, mutu yang mendorong semua anggota stafnya untuk memuaskan para pelanggan. Dalam konsep mutu terpadu pelanggan adalah raja.
     
14.  Produk dari pendidikan
Pelajar atau peserta didik seringkali dianggap sebagai produk dari pendidikan. Dalam pendidikan kita sering mengatakan seolah-olah pelajar adalah hasil dari pendidikan, khususnya dengan merujuk pada penerapan disiplin dan cara bersikap di institusi-institusi tertentu. Pendidikan seolah-olah merupakan sebuah jalur produksi
Menghasilkan pelajar dengan standar jaminan tertentu adalah hal yang mustahil. Sebagaimana Lynton Gray ungkapkan dalam beberapa diskusi tentang masalah ini : ‘manusia tidak sama, dan mereka berada pada situasi pendidikan dengan pengalaman, emosi, dan opini yang tidak bisa disama-ratakan. Menilai mutu pendidikan sangat berbeda dari memeriksa hasil produksi pabrik atau menilai sebuah jasa’.
15.  Pendidikan dan Pelanggannya
Bagi beberapa pendidik, istilah ‘Pelanggan’ jelas sekali memiliki nada komersial yang tidak dapat diaplikasikan dalam pendidikan. Mereka lebih suka menggunakan istilah klien. Klien, dengan konotasi jasa professional yang mnyertainya dianggap sebagai istilah yang jauh lebih tepat disbanding pelanggan. Sementara itu, yang lainnya ada yang menolak bahasa seperti itu dan menurut mereka akan lebih tepat jika menggunakan istilah pelajar atau murid. ‘Pelanggan utama’ yaitu pelajar yang secara langsung menerima jasa, ‘pelanggan kedua’ yaitu orang tua, gubernur atau sponsor pelajar yang memiliki kepentingan langsung secara individu maupun institusi, dan “pelanggan ketiga” yaitu pihak yang memiliki peran penting, meskipun tak langsung, seperti pemerintah dan masyarakat secara keseluruhannya. Bentuk pemasaran yang paling baik dalam pendidikan adalah pemasaran yang dipilih oleh para pelajar untuk kepentingan mereka masing-masing. Kesuksesan pelajar adalah kesuksesan intitusi pendidikan.
MMT juga diasumsikan sebagai suatu filosofi manajemen yang melembagakan sumber daya yang ada, terencana, berkesinambungan dan mengasumsikan peningkatan kualitas dari hasil semua aktivitas yang terjadi dalam organisasi: bahwa semua fungsi manajemen yang ada dan semua tenaga untuk berpartisipasi dalam proses perbaikan.
Dengan peningkatan sistem kualitas dan budaya kualitas, proses MMT bermula dari pelanggan dan berakhir pada pelanggan pula. Proses MMT memiliki input yang spesifik (keinginan, kebutuhan dan harapan pelanggan), mentransformasi (memproses) input dalam organisasi untuk memproduksi barang atau jasa yang pada gilirannya memberikan kepuasan kepada pelanggan (output).
Manajemen Mutu Terpadu merupakan upaya untuk mengoptimalkan organisasi dalam rangka kepuasan pelanggan. Dengan demikian Manajemen Mutu Terpadu berkaitan dengan:
·   Fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal.
·   Memiliki obsesi yang tinggi terhadap kualitas
·   Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan massalah
·   Memiliki komitmen jangka penjang
·   Membutuhkan kerjasama tim
·   Memperbaiki proses secara berkesinambungan
·   Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
·   Memberikan kebebasan yang terkendali
·   Memiliki kesatuan tujuan
·   Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan
16.  Strategi dan alat-alat dasar
Alat dan teknik mutu adalah media untuk dapat mengidentifikasi dan memecahkan persoalan secara kreatif. Salah satu aspek terpenting TQM adalah mengumpulkan sejumlah alat-alat yang bermanfaat mengimplementasikan konsep yang sudah ditentukan. Sebagaian besar dari alat-alat mutu tersebut sederhana dan sudah dipergunakan, seperti brainstorming.Brainstorming adalah membuat para staf berdaya cipta dan terbebas dari segala bentuk tekanan. Akan tetapi, ia juga memiliki keterbatasan untuk menghasilkan sebuah hasil yang diinginkan ia harus digunakan secara bersama-sama dengan alat-alat lain seperti afinitas jaringan kerja atau konstruksi diagram Ishikawa. Brainstorming bisa berbentuk aktivitas yang terstruktur atau tidak terstruktur brainstorming yang terstruktur melibatkan setiap anggota tim dalam memberikan ide hingga memunculkan ide inti. Sementara brainstorming yang tidak terstruktur secara sederhana mempersilahkan setiap orang untuk mengekspresikan ide-idenya seperti yang ada dalam pikirannya.

Pentingnya Manajemen Kesiswaan

1.    Pengertian Manajemen Kesiswaan
Manajemen kesiswaan adalah penataan dan pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik, mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah. Manajemen kesiswaan bukan hanya berbentuk pencatatan data peserta didik, melainkan meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.
Dalam manajemen kesiswaan terdapat empat prinsip dasar, yaitu : 1) siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek, sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka; 2) kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan intelektual, sosial ekonomi, minat dan seterusnya. Oleh karena itu diperlukan wahana kegiatan yang beragam, sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal; 3) siswa hanya termotivasi belajar, jika mereka menyenangi apa yang diajarkan; dan 4) pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif, dan psikomotor.
Siswa merupakan masukan mentah (raw input) dalam manjemen persekolahan. Ketercapaian tujuan pendidikan dimanifestasikan dalam perubahan pribadi siswa dengan segala aspeknya. Oleh karena itu, sebenarnya semua sumber dana dan daya pada akhirnya bermuara pada kepentingan siswa itu. Pada dasarnya siswa merupakan pusat utama dalam konsepsi persekolahan, dan kesiswaan itu sendiri juga menepati posisi strategis dalam administrasi pendidikan pada tingkat persekolahan. Apapun yang dilakukan sekolah, program apapun yang dirancang sekolah, ujung-ujungnya adalah untuk kepentingan siswa itu sendiri. Dan prestasi siswa akan menjadi ukuran keberhasilan program pendidikan di suatu sekolah. Namun walaupun kedudukan siswa begitu penting dan strategisnya, buku-buku literature atau kajian-kajian tentang kesiswaan dalam konsep manajemen pendidikan itu sendiri tidak terlalu banyak dan sepertinya kurang mendapat perhatian lebih. Holmes & Wynne mengungkapkan Books and university courses on educational administration do not give much direct attention to students, whose education is the justification for the administrator’s existence. The explanation is that, supposedly, everything educational administrators do is for and about pupils, directly indirectly. Therefore, by the account, addressing them separately isolates only afew factors of importance to them. The problem with mainstream approaches is that discussion of organizational theory and principal/teacher relation provides little evidence or argument to the effect that a particular approach will benefit students. Students are central in our conception of the school. Mengingat bahwa siswa merupakan salah satu elemen penting dalam pendidikan dan merupakan sasaran utama dalam peningkatan kualitas pendidikan yang nantinya akn berkontribusi terhadap upaya peningkatan kualitas hidup bagi masyarakat suatu bangsa melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia serta peningkatan derajat sosial masyarakat bangsa, maka siswa perlu dikelola, dimenej, diatur, ditata, dikembangkan dan diberdayakan agar dapat menjadi produk pendidikan yang bermutu, baik ketika siswa itu masih berada dalam lingkungan sekolah, maupun setelah berada dalam lingkungan masyarakat. Untuk itulah diperlukan adanya manajemen kesiswaan.
2.    Ruang Lingkup Manajemen Kesiswaan
 
Ruang lingkup mengenai manajemen kesiswaan adalah sebagai berikut:
1)   Perencanaan kesiswaan, termasuk di dalamnya adalah pengembangan program kesiswaan.
2)   Penerimaan peserta didik.
3)   Orientasi siswa baru.
4)   Mengatur kehadiran, ketidak hadiran siswa di sekolah.
5)   Mengatur evaluasi peserta didik, baik dalam rangka memperbaiki proses belajar             mengajar, bimbingan dan penyuluhan maupun untuk kepentingan promosi peserta       didik.
6)   Mengatur kenaikan tingkat siswa.
7)   Mengatur siswa yang mutasi dan drop out.
8)   Mengatur kode etik dan disiplin siswa.
9)   Mengatur layanan siswa yang meliputi:
a.         Layanan kepenasehatan
b.         Layanan bimbingan dan konseling siswa
c.         Layanan kesehatan baik fisik maupun mental
d.        Layanan kafetaria
e.         Layanan koperasi
f.          Layanan perpustakaan
g.         Layanan laboratorium
h.         Layanan asrama
i.           Layanan transportasi
10)    Mengatur organisasi siswa yang meliputi:
a.         Organisasi pramuka di sekolah
b.        Klub olah raga
c.         Klub kesenian
d.        Kelompok studi
e.         Pringatan hari besar
3.    Tujuan Manajemen Kesiswaan
     Manajemen kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur, serta mencapai tujuan pendidikan sekolah.
     Adapun tujuan mengenai manajemen kesiswaan dalam pendidikan sekolah adalah:
1)   Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan psikomotor siswa.
2)   Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan), bakat dan minat siswa.
3)   Menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan siswa.
4)   Dengan terpenuhinya 1, 2, dan 3 di atas diharapkan siswa dapat mencapai kebahagiaan, kesejahteraan hidup; lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka.
     Tujuan pendidikan tidak hanya untuk mengembangkan pengetahuan anak, tetapi juga sikap kepribadian, serta aspek sosial emosional, di samping ketrampilan-ketrampilan lain. Sekolah tidak hanya bertanggung jawab memberikan berbagai ilmu pengetahuan, tetapi memberi bimbingan dan bantuan terhadap anak-anak yang bermasalah, baik dalam belajar, emosional, maupun sosial, sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi masing-masing. Untuk kepentingan tersebut, diperlukan data yang lengkap tentang peserta didik. Untuk itu, di sekolah perlu dilakukan pencatatan dan ketatalaksanaan kesiswaan, dalam bentuk buku induk, buku klapper, buku laporan keadaan siswa, buku presensi siwa, buku rapor, daftar kenaikan kelas, buku mutasi, dan sebagainya.
4.  Fungsi Manajemen Kesiswaan
Adapun mengenai fungsi manajemen kesiswaan adalah sebagai berikut:
1.      Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas: kemampuan umum
(kecerdasan), kemampuan khusus (bakat), dan kemampuan lainnya.
2.      Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan sosial: sosialisasi dengan sebaya,
keluarga dan lingkungan sosial (sekolah &l masyarakat).
3.      Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan: tersalur hobi, kesenangan dan minatnya.
4.      Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan, agar siswa sejahtera dalam hidupnya.
5.    Prinsip Dasar Manajemen Kesiswaan
Dalam manajemen kesiswaan terdapat empat prinsip dasar, yaitu :
1.    Siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek, sehingga harus    
2.    didorong  untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan
3.    keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka.
4.    Kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan intelektual, sosial ekonomi, minat dan seterusnya. Oleh karena itu diperlukan  wahana kegiatan yang beragam, sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal.
5.    Siswa hanya termotivasi belajar, jika mereka menyenangi apa yang diajarkan.
6.    Pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif, dan psikomotor.


6. Tugas Manajemen Kesiswaan
     Untuk mewujudkan tujuan manajemen kesiswaan, sedikitnya memiliki tiga tugas utama yang harus diperhatikan, yaitu:
a)   Penerimaan Murid Baru
       Penerimaan murid baru merupakan salah satu kegiatan yang pertama dilakukan yang biasanya dengan mengadakan seleksi calon murid. Pengelolaan penerimaan murid baru ini harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga mengajar-belajar sudah dapat dimulai pada hari pertama setiap tahun ajaran baru.
       Menurut Ismed Syarief Cs. (1976: 25-20) langkah-langkah penerimaan murid baru pada garis besarnya adalah sebagai berikut:
1)    Membentuk panitia penerimaan murid
2)    Menetukan syarat pendaftaran calon murid
3)    Menyediakan formulir pendaftaran
4)    Pengumuman pendaftaran calon
5)    Menyediakan buku pendaftaran
6)    Waktu pendaftaran
7)    Penentuan calon yang diterima
b)   Pencatatan Murid dalam Buku Induk
       Murid yang baru perlu dicatat segera dalam buku besar biasa disebut buku induk atau buku pokok.Catatan dalam buku induk harus lengkap meliputi data dan identitas murid. Buku induk merupakan kumpulan daftar nama murid sepanjang masa dari sekolah itu. Di samping identitas murid, dalam buku induk juga berisi prestasi belajar anak (daftar nilai rapor) dari tahun ke tahun selama ia belajar di sekolah tersebut.
c)    Buku Klaper
       Buku ini berfungsi untuk membantu buku induk memuat data murid yang penting-penting. Pengisiannya dapat diambil dari buku induk tetapi tidak selengkap buku induk itu.
       Kegunaan utama buku klaper adalah untuk memudahkan mencari data murid, apalagi belum diketahui nomor induknya. Hal ini mudah ditemukan diketemukan dalam buku klaper karena nama murid disusun menurut abjad.
                                                                                                  
d)   Tata Tertib murid

       Menurut instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 1 Mei 1974, No 14/U/1974, tata tertib sekolah ialah ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan sekolah sehari-hari dan mengandung sanksi terhadap pelanggarannya.

Kedudukan Bahasa Indonesia

Kedudukan Bahasa Indonesia terdiri dari :

1. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional

Fungsi Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional:

1). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai Lambang kebanggaan kebangsaan
             Bahasa Indonesia mencerminkan nilai – nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita. Atas dasar kebanggaan ini , Bahasa Indonesia harus kita pelihara dan kita kembangkan. Serta harus senantiasa kita bina rasa bangga dalam menggunakan Bahasa Indonesia.

2). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang identitas nasional
              Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya apabila masyarakat pemakainya/yang menggunakannya membina dan mengembangkannya sehingga bersih dari unsur – unsur bahasa lain.
3). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat perhubungan antar warga, antar daerah, dan antar budaya
          Dengan adanya Bahasa Indonesia kita dapat menggunakannya sebagai alat komunikasi dalam berinteraksi/berkomunikasi dengan masyarakat-masyarakat di daerah (sebagai bahasa penghubung antar warga, daerah, dan buadaya).

4). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat yang memungkinkan penyatuan berbagai – bagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing – masing kedalam kesatuan kebangsaan Indonesia.
            Dengan bahasa Indonesia memungkinkan berbagai suku bangsa mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai – nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkutan.

2. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara

Fungsi Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa Negara:

1). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan
         Sebagai bahasa resmi kenegaraan , bahasa Indonesia dipakai didalam segala upacara, peristiwa dan kegiatan kenegaraan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
2). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pengantar didalam dunia pendidikan
        Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar yang digunakan di lembaga – lembaga pendidikan mulai dari taman kanak – kanak sampai dengan perguruan tinggi diseluruh Indonesia.
3). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan
      Bahasa Indonesia dipakai bukan saja sebagai alat komunikasi timbal – balik antara pemerintah dan masyarakat luas, dan bukan saja sebagai alat perhubungan antar daerah dan antar suku , melainkan juga sebagai alat perhubungan didalam masyarakat yang sama latar belakang sosial budaya dan bahasanya.
4). Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.
       Bahasa Indonesia adalah satu – satunya alat yang memungkinkan kita membina dan mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memikili ciri – ciri dan identitasnya sendiri ,yang membedakannya dari kebudayaan daerah.

Dinamika Pelaksanaan Penegakkan Hukum Di Indonesia

   Pelaksanaan the rule of law mengandung keinginan untuk terciptanya negara hukum, yang membawa keadilan bagi seluruh rakyat. Prinsip-prinsip rule of law secara hakiki(materil) sangat erat kaitannya dengan “the enforcement of the rules of law” dalam penyelenggaraan pemerintahan terutama dalam hal penegakan hukum dan implementasi prinsip-prinsip rule of law.
          Rule of law merupakan institusi sosial yang memiliki struktur sosiologis yang khas dan mempunyai akar budaya yang khas pula. Rule of law  ini juga merupakan legalisme, suatu aliran pemikiran hukum yang di dalamnya terkandung wawasan sosial, gagasan tentang hubungan antar manusia, masyarakat dan negara, yang dengan demikian memuat nilai-nilai tertentu yang memiliki struktur sosiologisnya sendiri. Legalisme tersebut mengandung gagasan bahwa keadilan dapat dilayani melalui pembuatan sistem peraturan dan prosedur yang sengaja bersifat objektif, tidak memihak, tidak personal, dan onotom. Secara kuantitatif, peraturan perundang-undangan yang terkait dengan rule of law telah banyak dihasilkan di negara kita, namaun implementasi/penegakkannya belum mencapai hasil yang optimal, sehingga rasa keadilan sebagai perwujudan pelaksanaan rule of law belum dirasakan sebagian besar masyarakat.

Ronggo Warsito

Nama aslinya adalah Bagus Burhan. Ia adalah putra dari Mas Pajangswara (juga disebut Mas Ngabehi Ranggawarsita. Ayahnya adalah cucu dari Yasadipura II, pujangga utama Kasunanan Surakarta. Ayah Bagus Burhan merupakan keturunan Kesultanan panjang sedangkan ibunya adalah keturunan dari Kesultanan Demak. Bagus Burhan diasuh oleh Ki Tanujaya, abdi dari ayahnya.  Riwayat Masa Muda Sewaktu muda Burhan terkenal nakal dan gemar judi. Ia dikirim kakeknya untuk berguru agama Islam pada Kyai Imam Besari pemimpin pesantren gabang tinatar di desa Tegalsari (Ponorogo). Pada mulanya ia tetap saja bandel, bahkan sampai kabur ke Madiun. Setelah kembali ke Ponorogo, konon, ia mendapat "pencerahan" di Sungai Kedungwatu, sehingga berubah menjadi pemuda alim yang pandai mengaji. Ketika pulang ke Surakarta, Burhan diambil sebagai cucu angkat Panembahan Buminoto (adik Pakubuwana IV). Ia kemudian diangkat sebagai Carik Kadipaten Anom bergelar Mas Pajanganom tanggal 28 Oktober 1819.      
            Pada masa pemerintahan Pakubuwana V (1820 – 1823), karier Burhan tersendat-sendat karena raja baru ini kurang suka dengan Panembahan Buminoto yang selalu mendesaknya agar pangkat Burham dinaikkan. Pada tanggal 9 November 1821 Burhan menikah dengan Raden Ayu Gombak dan ikut mertuanya, yaitu Adipati Cakradiningrat di Kediri. Di sana ia merasa jenuh dan memutuskan berkelana ditemani Ki Tanujoyo. Konon, Burhan berkelana sampai ke Pulau Bali untuk mempelajari naskah-naskah sastra Hindu koleksi Ki Ajar Sidalaku.  Puncak Kejayaan Karier Bagus Burhan diangkat sebagai Panewu Carik Kadipaten Anom bergelar Raden Ngabei Ronggowarsito, menggantikan ayahnya yang meninggal di penjara Belanda tahun 1830. Lalu setelah kematian Yasadipura II, Ranggawarsita diangkat sebagai pujangga Kasunanan Surakarta oleh Pakubuwana VII pada tanggal 14 September 1845. Pada masa inilah Ranggawarsita melahirkan banyak karya sastra. Hubungannya dengan Pakubuwana VII juga sangat harmonis. Ia juga dikenal sebagai peramal ulung dengan berbagai macam ilmu kesaktian. Naskah-naskah babad cenderung bersifat simbolis dalam menggambarkan keistimewaan Ranggawarsita. Misalnya, ia dikisahkan mengerti bahasa binatang. Ini merupakan simbol bahwa, Ranggawarsita peka terhadap keluh kesah rakyat kecil.

Essai : Menasionalkan UNTIRTA

Keyakinan akan membuahkan hasil kerja yang baik. Mimpi adalah sungguh langkah pertama yang seharusnya menjadi modal utama. Berani mimpi tak takut mati, berani mati tak takut mimpi, takut mimpi mati saja. Dengan segala potensi yang ada, setiap manusia memiliki kesempatan dan peluang yang sama. Karena setiap manusia memiliki hak dan cipta yang sama. Bukankah keindahan ini akan menjadi semakin indah jika kita bisa saling melengkapi dan menyempurnakan semuanya. Bertempat di kota perintis zaman, UNTIRTA pun siap menjadi perintis pendidikan. Serang sebagai ibu kota propinsi Banten memiliki berberapa macam potensi dan bakat dalam berbagai aspek. Salah satu contoh dapat dilihat dari aspek pendidikan yang mulai menyeimbangkan sistem pembelajarannya dengan sistem pembelajaran pemerintah pusat. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa(UNTIRTA) siap menjadi kampus bertaraf  Nasional. Siapa UNTIRTA? Mengapa UNTIRTA? Siapkah UNTIRTA?
Siapa UNTIRTA, Propinsi Banten merupakan propinsi yang kaya akan potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia. Betapa tidak, banyak tempat wisata yang menjadi daya tarik baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Begitupula dengan Sumber Daya Manusia yang bergerak di bidang-bidang keahliannya. Berdiri dengan nama Universitas Tirtayasa, lembaga pendidikan ini mengikuti proses perkembangan pendidikan di propinsi Banten. Didirikan oleh sebuah yayasan, yakni yayasan Pendidikan Tirtayasa, pada tanggal 1 Oktober 1980. Nama Tirtayasa diambil dari Pahlawan Banten, yakni Sultan Ageng Tirtayasa, seorang pewaris kesultanan Banten keempat, dengan semangatnya menantang penjajah Belanda, akhirnya membawa Banten kepada masa kejayaan dan keemasan pada waktu itu. Pada awalnya Yayasan Pendidikan Tirtayasa Banten mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH), Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan(STKIP), dan Sekolah Tinggi Teknologi(STI). Kemudian pada tanggal 1 Oktober 1981 didirikan Sekolah Tinggi Ilmi Hukum(STIH) yang juga menjadi penetapan tanggal kelahiran Universitas Tirtayasa. Untirta kemudian membuka fakultas baru, yaitu Fakultas Pertanian pada tahun 1984, dan disusul oleh Fakultas Ekonomi. Sejalan dengan majunya perkembangan Banten, Untirta diusulkan menjadi Universitas Negeri. Kemudian tahun 1999 status Untirta menjadi “Persiapan Pendirian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa” dan berdirilah Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik(FISIP). 2001 diangkatlah Untirta menjadi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Kini dengan statusnya sebagai Universitas Negeri, Untirta memiliki 6 Fakultas.
Mengapa UNTIRTA, sebagai satu-satunya Universitas Negeri dengan izin operasional Mendiknas di propinsi Banten, Untirta merupakan kampus pelopor untuk kemajuan pendidikan dan pengembangan potensi mahasiswa Banten. Tidak hanya Banten, nama Untirta sudah harum sampai di berbagai daerah. Sumatera, Jawa Timur, Jawa Tengah, pun semua daerah Nusantara telah mengenal kampus Untirta. Prestasi yang diraih adalah batu loncatan kesuksesan sebuah instansi atau lembaga. Dengan sistem yang baik, Untirta mampu mengasah bakat para mahasiswanya untuk dikembangkan dan disalurkan dengan tepat. Tak sedikit prestasi yang dihasilkan untuk membawa harum nama Banten, Untirta juga dapat mengimbangi Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta yang bertaraf  Nasional baik dalam bidang Akademis maupun bidang yang lain. Diberbagai kejuaraan Untirta mampu bersaing mengimbangi kampus-kampus besar. Seperti di Pimnas, O2N, dll.
Siapkah UNTIRTA, tidak ada pemain yang baik, jika tidak di sutradarai oleh sutradara yang baik. Begitupula Untirta, di balik kesuksesan para mahasiswanya dalam berbagai bidang, tentu ada pendukung di belakangnya. Pembelajaran di kelas disampaikan oleh dosen yang sudah kompeten di bidangnya. Dihadirkan lulusan-lulusan terbaik dari kampus-kampus terbaik. Tak sedikit dosen yang mengajar di Untirta mendapat gelar pendidikannya dari luar negeri. Tak sedikit pula tenaga pengajar dengan gelarnya sebagai Prof/Guru Besar. Karena jenjang pendidikan yang ditawarkan adalah Sarjana Strata 1 dan 2, maka tenaga pengajar Untirta paling rendah memiliki gelar magister atau S2. Sangatlah mampu jika Untirta menjadi Universitas dengan taraf  Nasional. Karena semua pendukung didalamnya  sangatlah menunjang untuk arah itu. Bahkan kita bisa membuat Untirta menjadi Universitas yang bukan hanya terdengar dan terlihat, tapi juga didengar dan dilihat.