Kamis, 12 Januari 2017
Manusia Mencari Kebenaran
PUNCAK KEJAYAAN ISLAM DI ANDALUSIA
Meskipun saat ini jumlah umat
Islamnya minoritas di setiap negara-negara Eropa, ternyata benua ini pernah
menyimpan jejak sejarah kejayaan kekuasaan Islam. Dalam sejarah Islam, Spanyol atau
yang dahulu dikenal dengan tanah Andalusia adalah salah satu pusat kekuasaan
Islam yang terbesar di benua Eropa itu. Kata "Al-Andalus" merupakan
bahasa Arab yang berarti “menjadi hijau saat akhir musim panas.”
Kaum muslim
menaklukkan Andalusia yang dikuasai orang-orang Goth pada tahun 711 M./92 H.
Kaum muslim berkuasa di Andalusia selama hampir delapan abad melahirkan sebuah
peradaban ilmiah cemerlang. Kejayaan Andalusia sudah berakhir, namun
peradabannya masih bertahan hingga saat ini. Masa kejayaan yang bertahan lebih
dari tujuh abad lamanya itu belum pernah tersaingi oleh negara manapun hingga
saat ini.
Kejayaan
Andalusia tidak bisa terlepas dari peranan besar khalifah Bani Umayah yang
pertama. Abdul Rahman I (756-788) adalah seorang pemimpin yang terpelajar,
berwibawa dan amat berminat di bidang kesastraan. Karena begitu cintanya pada
bidang itu, ia mendirikan satu tempat khusus di dalam istanyanya yang diberi
gelar "Darul Madaniyat" untuk kegiatan kesusasteraan untuk kalangan
wanita Andalus. Setelah masa Abdul Rahman I, penggantinya juga adalah seorang
pemerintah yang menitikberatkan dibidang kelimuan. Jasa beliau yang terbesar
adalah tentang penyebaran bahasa Arab dan melemahkan bahasa aing di di seluruh
semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal). Beliau yang menjadikan bahasa arab
sebagai Lingua Franca dalam hubungan antar bangsa pada zamannya dan
zaman berikutnya.
Jadi kita dapat melihat bahwa
kontribusi umat Muslim kepada dunia sangat mengagumkan. Umat Muslim
mengembangkan teknologi dengan begitu baik sehingga dapat berguna bagi dunia
Barat dan menolong Eropa yang berada dalam masa kegelapan. Eropa pada saat itu
berada dalam masa keruntuhannya dan Eropa bukan lagi pusat dunia, tapi ketika
para sejarawan non-Muslim menganggapnya sebagai masa kegelapan Eropa, tepat di
bagian barat Eropa, berdirilah negeri Muslim yang memukau bernama Andalusia,
yang merupakan Kekhalifahan Spanyol.
Kota-kota di Spanyol pernah
menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban yang membuat banyak
pelajar-pelajar Eropa menimba ilmu di sana. Andalusia sudah mengetahui bahwa
matahari sebagai pusat tata surya, sedangkan saat itubangsa Eropa masih
memperdebatkan teori geosentris ptolemeus (bumi sebagai pusat edar). Betapa
jauh peradaban Andalusia. Pada saat itu, Andalusia merupakan sebuah pusat
pendidikan. Kota-kota seperti Toledo, Sevilla, Granada, dan Cordoba adalah
tempat yang pernah menjadi sejarah bagi kejayaan Islam ketika agama itu
berhasil mewarnai Andalusia hingga 5 abad lamanya.
Tradisi kelimuan
yang begitu kental membuat peradaban Andalusia melesat jauh dibanding
negara-negara lain. Ilmu pengetahuan tersebut akhirnya tertuang pada
pembangunan dan teknologi Andalusia yang maju. Mengutip Anwar G Chejne, Salmah
menggambarkan keindahan Cordoba. Pada Abad ke-10 M, Cordoba mengalahkan
keindahan Constantinople, dengan rumah sakit, universitas, penerbitan
buku, industri kertas, mesjid dan istana yang sangat cantik, perpustakaan,
kolam mandi dan taman persiaran yang indah. Perpustakaan umum dibangun di
setiap wilayah. Di kota Cordoba saja terdapat 70 buah perpustakaan yang bisa
digunakan oleh seluruh masyarakat.
Ilmuan-ilmuan
pun akhirnya bermunculan saat itu. Ahli matematika (Al-Khwarizmi, Orang pertama
yang menulis buku berhitung dan aljabar), ahli kedokteran (Al-Kindi penulis
buku ilmu mata, Ar-Razi atau Rhazez penulis buke kedokteran, Abu Al-Qasim
al-Zahrawi ahli bedah, Ibnu Nafis penemu sirkulasi darah, dan Ibnu Sina), ahli
satra (Ibn Abd Rabbih, Ibn Bassam, Ibn Khaqan), ahli hukum, politik, ekonomi,
astronomi (Ibrahim ibn Yahya Al-Naqqash, penentu gerhana dan pembuat teropong
bintang modern), ahli hadits dan fikih (Ibnu Abdil Barr, Qadi Iyad), sejarah
(Ibn Khaldun penemu teori sejarah), ahli kelautan (Ibnu Majid). Bahkan
penjelajah Andalusia menginjakkan kakinya di Benua Amerika lima abad sebelum Christopher Colombus.
Eropa berada di periode yang
paling produktif dan kreatif sepanjang sejarahnya. Hal-hal seperti katedral
gotik, universitas, pengadilan, dan perundang-undangan, semuanya diciptakan.
Jadi dari masa kegelapan yang berlangsung lama, datanglah sebuah ledakan luar
biasa yang merupakan pencapaian budaya yang mengagumkan. Renaissance telah
kembali, cahaya-cahaya kembali hidup. Apa yang terjadi di antara tahun
700-1.500? Apakah itu masa kegelapan? Itulah masa keemasan Islam, dan sekarang
mari kita bicarakan beberapa kontribusi yang diciptakan umat Muslim.
Dalam matematika, beberapa
prestasi yang dicapai adalah mereka menemukan aljabar, simbol dan persamaan,
mengembangkan sistem penomoran Arab (01234567890 yang digunakan di seluruh
dunia pada zaman sekarang). Mereka menciptakan algorism (Sistem desimal dalam
bahasa Arab). Mereka menemukan rumus umum untuk menyelesaikan third degree
equations. Mereka menemukan rasio trigonomic, rumus-rumus, dan persamaan.
Kalian dapat terus melanjutkan dan melihat... Kalkulus, trigonometri, dan semua
bidang studi ini berhutang budi pada Islam.
Dalam Fisika, mereka menciptakan
pengetahuan tentang mekanik, mereka menjelaskan pusat gravitasi, mereka
mendeskripsikan gravitasi. Jadi ketika sebuah apel mengenai kepala Isaac
Newton, dia mungkin sedang membaca sebuah buku bahasa Arab, dan kemudian dia
terbangun dari tidurnya
Kembali ke pembahasan mengenai
Spanyol, pada Abad ke-7 itu, Andalusia telah memiliki
sistem perairan dan irigasi yang baik, namun bangsa Eropa bahkan belum mengenal
istilah mandi. Ketika Andalusia sudah memiliki dokter-dokter ahli, bangsa Eropa
menilai sakit itu adalah kutukan. Andalusia telah menciptakan kamar mandi dan
wc, Inggris malah masih 'BAB' di kantong plastik dan membuangnya dijalan. Mereka dapat mengambil air dari atas gunung dan
membawanya turun dari gunung menggunakan pipa air, kanal, dan dikanalkan ke
seluruh penjuru kota, sehingga setiap rumah dapat mengakses air. Dan mereka
melakukan itu semua tanpa menghancurkan, membendung, atau menyumbat sesuatu,
mereka mendesainnya dengan sangat lihai, mereka menggunakan gravitasi, ini cara
yang alami untuk melakukan sesuatu.
Dan jika kalian pergi ke Granada
sekarang, kalian akan melihat saluran airnya sudah digunakan sejak waktu umat
Muslim, air mengalir ke segala penjuru dan inilah prestasi luar biasa yang
mereka ciptakan! Matematika, astronomi, botani, sejarah, filosofi, dan
yurisprudensi dikembangkan di Spanyol, dan hanya di Spanyol saja! Semua yang
mendorong kemakmuran dan kemajuan suatu bangsa, semua yang mendorong
perkembangan dan peradaban, ditemukan di Muslim Spanyol
TAN MALAKA (PAHLAWAN ISLAM YANG TERLUPAKAN)
Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Tan Malaka adalah tokoh
yang sangat berjasa bagi Indonesia. Dialah pencetus pertama berdirinya Republik
Indonesia, sebagaimana ditulisnya dalam bukunya yang berjudul ‘Naar de
Republiek Indonesia’ (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, beberapa tahun
sebelum Bung Hatta dan Bung Karno menulis buku soal konsep kemerdekaan
Indonesia. Pemikirannya banyak dijadikan rujukan oleh Bung Karno dan tokoh
pergerakan lainnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bung Karno
bahkan memberinya gelar sebagai ‘orang yang ahli dalam revolusi’, sementara Moh
Yamin dalam tulisannya di sebuah artikel koran menyebut Tan Malaka sebagai
‘Bapak Republik Indonesia.’
Melalui buku ini, pembaca akan diajak mengikuti perjalanan
hidup Tan Malaka, yang ternyata memang sangat menarik dan revolusioner,
sekaligus tragis. Dia ternyata sosok pemikir yang terjun langsung berusaha
mendidik anak-anak di sekolah. Ya, Tan Malaka adalah seorang guru, yang
benar-benar berpeluh mengajar anak-anak di sekolah-sekolah Syarikat Islam (SI),
dengan gaji sangat minim, dengan ketersediaan biaya operasional jauh dari
cukup. Dengan ijazah guru lulusan Belanda yang dimilikinya, Tan Malaka bisa
(dan sudah) mengajar di sekolah milik Belanda dengan gaji sangat tinggi.
Namun kesempatan itu dia tinggalkan untuk mengajar di sekolah SI di Semarang
pada Juni 1921.
Pemerintah kolonial saat itu mengizinkan dibukanya
sekolah-sekolah SI karena mengira sekolah-sekolah itu akan tutup dengan
sendirinya karena tidak ada dana. Tan Malaka dkk pun merencanakan membuat pasar
amal untuk mencari dana, namun dilarang pemerintah. Akhirnya, murid-murid ke
kampung-kampung dengan dikawal orang dewasa, untuk mencari sumbangan dari
penduduk kampung. Bahkan Tan Malaka ikut terjun langsung, mengawal
murid-muridnya mencari sumbangan (hal 81). Dalam waktu singkat, sekolah SI
memiliki banyak murid dan mendapatkan undangan untuk mendirikan cabang di
berbagai kota. Cabang-cabang SI di berbagai kota lain pun meraih simpati
masyarakat dan banyak yang mengirimkan anak-anak mereka bersekolah di SI.
Bahkan cara mengajar TanMalaka pun sangat visioner: anak-anak dibebaskan untuk
belajar dan mengerjakan sesuatu, sedangkan guru membimbing dan memberi nasehat.
Pemerintah Belanda akhirnya khawatir melihat kemajuan pesat
sekolah SI. Tan Malaka pun dibuang ke Belanda pada Februari 1922, hanya delapan
bulan setelah Tan Malaka mulai mengajar di SI.
Selanjutnya di buku ini diceritakan bagaimana perjuangan Tan
Malaka untuk kemerdekaan Indonesia selama masa pembuangan, dengan bahasa yang
menarik dan mudah dicerna, sehingga terasa bak membaca novel. Di akhir
buku, dikisahkan episode tragis kehidupan Tan Malaka (dan Indonesia), yaitu
perpecahan di antara sesama tokoh pejuang kemerdekaan.
Tan Malaka menolak ajakan untuk bergabung dengan pemerintah
Sukarno-Hatta karena dia menentang politik diplomasi yang merugikan Indonesia,
dan karena kritik-kritiknya pada pemerintah, dia bahkan dijebloskan ke penjara
sebagai tahanan politik. Di sisi lain, Tan Malaka juga menolak pemberontakan PKI
melawan pemerintah dan bahkan mendukung tindakan pemerintah membungkam
pemberontakan itu. Dia menulis (mengomentari pemberontakan PKI 1948):
Tetapi karena aksi PKI Musso ditujukan kepada pemerintah
Republik yang ada sekarang, pertama sekali, urusan dan kewajiban
pemerintah inilah pula membela kekuasaannya. Tidak bisa dua kekuasaan
tertinggu ada dalam satu negara. Rakyat harus tahu mana pemerintah yang harus
diikutinya.” (hal 268)
Pada bulan November 1948, Tan Malaka mengingatkan pemerintah
akan terjadinya agresi militer Belanda akibat politik diplomasi yang tak
kunjung memuaskan kedua pihak (Indonesia-Belanda). Namun pemerintah tak
menghiraukan, dan terus berunding dengan Belanda. Benar saja, Desember 1948,
Belanda melancarkan agresi, Sukarno-Hatta ditangkap dan dibuang ke Sumatera.
Sukarno-Hatta memerintahkan Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk
pemerintahan Darurat RI di Sumatera Barat.”
Sementara itu Jenderal Sudirman mengumumkan kondisi darurat
Perang dan memilih jalan tegas untuk melawan belanda melalui perang gerilya.
Tindakan Jenderal Sudirman ini sebenarnya sejalan dengan Tan Malaka, yang sejak
awal menolak segala bentuk perundingan dengan Belanda. Tan Malaka aktif menyeru
rakyat untuk berjuang angkat senjata melawan Belanda.
Ironisnya, militer RI dan lawan-lawan politiknya justru
menuduh Tan Malaka ingin memberontak dari RI. Pada tanggal 21 Februari 1949,
Tan Malaka ditangkap dan ditembak mati oleh tentara Militer Divisi I Jawa
Timur. Dia ditembak mati dalam kondisi Indonesia sedang diagresi oleh Belanda
dan pada saat dia sedang memimpin rakyat angkat senjata untuk mengusir Belanda.
Sungguh tragis.
“Tan Malaka orang yang luar biasa dan petualangannya sangat
menarik, saya harus melintasi dua benua dan dua negara untuk mencari jejak
sejarahnya, jejaknya ada dimana-mana.”(Harry A. Poeze, lebih 20 tahun meneliti
Tan Malaka).
Pengaruh Idealisme di Ruang Kelas
Secara historis, idealisme diformulasikan dengan jelas pada abad IV sebelum
masehi oleh Plato (427-347 SM). Semasa Plato hidup kota
Athena adalah kota yang berada dalam kondisi transisi
(peralihan). Peperangan bangsa Persia telah mendorong Athena memasuki era baru.
Seiring dengan adanya peperangan-peperangan tersebut, perdagangan dan
perniagaan tumbuh subur dan orang-orang asing tinggal diberbagai penginapan
Athena dalam jumlah besar untuk meraih keuntungan mendapatkan kekayaan yang
melimpah. Dengan adanya hal itu, muncul berbagai gagasan-gagasan baru ke dalam
lini budaya bangsa Athena. Gagasan-gagasan baru tersebut dapat mengarahkan
warga Athena untuk mengkritisi pengetahuan & nilai-nilai tradisional. Saat
itu pula muncul kelompok baru dari kalangan pengajar (para Shopis. Ajarannya memfokuskan pada individualisme, karena mereka berupaya
menyiapkan warga untuk menghadapi peluang baru terbentuknya masyarakat niaga.
Penekanannya terletak pada individualisme, hal itu disebabkan karena adanya
pergeseran dari budaya komunal masa lalu menuju relativisme dalam bidang
kepercayaan dan nilai.
Proses mengetahui terjadi dalam
pikiran,manusia memperoleh pengetahuan melalui berpikir. Di samping itu,
manusia dapat pula memperoleh pengetahuan melalui intuisi. Bahkan
beberapa filsuf Idealisme percaya bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara mengingat
kembali (semua pengetahuan adalah sesuatu yang diingat kembali). Plato
adalah salah seorang penganut pandangan ini. Ia sampai pada kesimpulan tersebut
berdasarkan asumsi bahwa spirit/jiwa manusia bersifat abadi, yang mana
pengetahuan sudah ada di dalam spirit/jiwa sejak manusia dilahirkan.
Para filsuf Idealisme sepakat
bahwa nilai-nilai bersifat abadi. Menurut penganut Idealisme Theistik nilai-nilai
abadi berada pada Tuhan. Baik dan jahat, indah dan jelek diketahui setingkat
dengan ide baik dan ide indah konsisten dengan baik dan indah yang absolut
dalam Tuhan. Penganut Idealisme Pantheistik mengidentikan Tuhan dengan
alam. Nilai-nilai adalah absolut dan tidak berubah (abadi), sebab nilai-nilai
merupakan bagian dari aturan-aturan yang sudah ditentukan alam (Callahan and
Clark, 1983). Sebab itu dapat Anda simpulkan bahwa manusia diperintah oleh
nilai-nilai moral imperatif dan abadi yang bersumber dari Realitas Yang
Absolut.
Bagi aliran idealisme, peserta didik merupakan seorang
pribadi tersendiri, sebagai makhluk spiritual. Mereka yang menganut paham
idealisme senantiasa memperlihatkan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan
ekspresi dari keyakinannya, sebagai pusat utama pengalaman pribadinya sebagai
makhluk spiritual. Tentu saja, model pemikiran filsafat idealisme ini dapat
dengan mudah ditransfer ke dalam sistem pengajaran dalam kelas. Guru yang
menganut paham idealisme biasanya berkeyakinan bahwa spiritual merupakan suatu
kenyataan, mereka tidak melihat murid sebagai apa adanya, tanpa adanya
spiritual.
Pendidikan idealisme untuk individual antara lain
bertujuan agar anak didik bisa menjadi kaya dan memiliki kehidupan yang
bermakna, memiliki kepribadian yang harmonis dan penuh warna, hidup bahagia,
mampu menahan berbagai tekanan hidup, dan pada akhirnya diharapkan mampu
membantu individu lainnya untuk hidup lebih baik. Sedangkan tujuan pendidikan
idealisme bagi kehidupan sosial adalah perlunya persaudaraan sesama manusia.
Karena dalam spirit persaudaraan terkandung suatu pendekatan seseorang kepada
yang lain. Seseorang tidak sekadar menuntuk hak pribadinya, namun hubungan
manusia yang satu dengan yang lainnya terbingkai dalam hubungan kemanusiaan
yang saling penuh pengertian dan rasa saling menyayangi. Sedangkan tujuan
secara sintesis dimaksudkan sebagai gabungan antara tujuan individual dengan
sosial sekaligus, yang juga terekspresikan dalam kehidupan yang berkaitan
dengan Tuhan.
Guru dalam sistem pengajaran yang menganut aliran
idealisme berfungsi sebagai: (1) guru adalah personifikasi dari kenyataan si
anak didik; (2) guru harus seorang spesialis dalam suatu ilmu pengetahuan dari
siswa; (3) Guru haruslah menguasai teknik mengajar secara baik; (4) Guru
haruslah menjadi pribadi terbaik, sehingga disegani oleh para murid; (5) Guru
menjadi teman dari para muridnya; (6) Guru harus menjadi pribadi yang mampu
membangkitkan gairah murid untuk belajar; (7) Guru harus bisa menjadi idola
para siswa; (8) Guru harus rajib beribadah, sehingga menjadi insan kamil yang
bisa menjadi teladan para siswanya; (9) Guru harus menjadi pribadi yang
komunikatif; (10) Guru harus mampu mengapresiasi terhadap subjek yang menjadi
bahan ajar yang diajarkannya; (11) Tidak hanya murid, guru pun harus ikut
belajar sebagaimana para siswa belajar; (12) Guru harus merasa bahagia jika
anak muridnya berhasil; (13) Guru haruslah bersikap dmokratis dan mengembangkan
demokrasi; (14) Guru harus mampu belajar, bagaimana pun keadaannya.
Guru menjadi agen penting dalam menolong siswa
mengembangkan potensinya semaksimal mungkin Guru idealis menyajikan bahan
belajar warisan budaya yang terbaik. Membuat siswa berperan dalam menyumbangkan
karya mereka untuk masyarakat. Guru idealis akan menekankan para siswa untuk
menggapai cita- cita tertinggi yang mampu ia raih. Menunjukkan jalan bagi siswa
untuk mencapai yang terbaik dalam hidup. Visi hidup haruslah tinggi sehingga
menginspirasi siswa untuk berjuang lebih keras. Siswa tidak boleh terpengaruh
dengan kondisi sosial yang tidak mendukung pencapaian cita- cita. Siswa
diajarkan untuk berani bermimpi kemudian berjuang keras untuk mewujudkan mimpi-
mimpinya.
Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan yang
beraliran idealisme harus lebih memfokuskan pada isi yang objektif. Pengalaman
haruslah lebih banyak daripada pengajaran yang textbook. Agar supaya
pengetahuan dan pengalamannya senantiasa aktual.
Power (1982:89) mengemukakan implikasi filsafat
pendidikan idealisme sebagai berikut :
1). Tujuan
Pendidikan
Pendidikan formal dan informal bertujuan membentuk
karakter, dan mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikan sosial. Mengingat
bakatmanusia berbeda-beda maka pendidikan yang diberikan kepada setiap orang
harus sesuaidengan bakatnya masing-masing sehingga kedudukan, jabatan, fungsi
dan tangung jawab setiap orang di dalam masyarakat/negara menjadi teratur
sesuai asas “the right man onthe right place” , dan lebih jauh dari itu
agar manusia hidup sesuai nilai dan norma yang diturunkan dari Yang Absolut.
2).
Kedudukan Siswa
Kedudukan
siswa yang dimaksud disini yaitu siswa bebas untuk
mengembangkan kepribadian dan kemampuan dasarnya/bakatnya.
3). Peranan
Guru
Peranan guru yang dimaksud disini adalah guru dapat bekerja sama dengan
alam dalam proses pengembangan manusia, terutama bertanggung jawab dalam
menciptakan lingkungan pendidikan siswa. Selain itu guru harus unggul
agar menjadi teladan bagi parasiswanya, baik secara moral maupun intelektual.
Tidak ada satu unsur pun yang lebih penting di dalam sistem sekolah selain
guru. Guru harus unggul dalam pengetahuan dan memahami kebutuhan-kebutuhan
serta kemampuan-kemampuan para siswa,
serta guru harus
mendemonstrasikan keunggulan moral dalam keyakinan dan tingkah lakunya. Guru
harus dapat melatih berpikir kreatif
dalam mengembangkan kesempatan bagi pikiran siswa untuk menemukan,
menganalisis, memadukan, mensintesa, dan menciptakan aplikasi-aplikasi
pengetahuan untuk hidup dan berbuat.
4).
Kurikulum
Pendidikan liberal untuk pengembangan kemampuan
rasional, dan pendidikan praktis untuk memproleh pekerjaan. Kurikulumnya
diorganisasi menurut mata pelajaran dan berpusatpada materi pelajaran (subject
matter centered). Karena masyarakat dan Yang Absolut mempunyai peranan
menentukan bagaimana seharusnya individu hidup, maka isi kurikulum tersebut
harus merupakan nilai-nilai kebudayaan yang esensial dalam segala zaman. Sebab,
itu, mata pelajaran atau kurikulum pendidikan itu cenderung berlaku
sama
untuk semua siswa.
5). Metode
Metode yang di gunakan adalah metode dialek. Dimana metode
dialek itu merupakan metode yang dapat mendorong siswa untuk
memperluas cakrawala, yang dapat mendorong untuk berpikir reflektif, mendorong
pilihan-pilihan moral pribadi, memberikan keterampilan-keterampilan berpikir
logis, memberikan kesempatan menggunakan
pengetahuan untuk masalah-masalah moral dan sosial; meningkatkan minat terhadap
isi mata pelajaran, serta dapat mendorong siswa untuk menerima nilai-nilai
peradaban manusia.
Dalam konsep ini, guru harus memandang anak sebagai
tujuan, bukan sabagai alat. Guru harus bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia
merupakan contoh yang baik untuk diterima oleh siswanya. Idealisme memiliki
tujuan pendidikan yang pasti dan abadi, dimana tujuan itu berada di luar
kehidupan sekarang ini. Tujuan pendidikan idealisme akan berada di luar
kehidupan manusia itu sendiri, yaitu manusia yang mampu mencapai dunia cita,
manusia yang mampu mencapai dan menikmati kehidupan abadi, yang berasal dari
Tuhan.
Daftar
Pusaka
Noor,
M., (Ed.). 1987. Filsafat dan Teori Pendidikan:
Jilid I Filsafat Pendidikan, Sub Koordinator Mata kuliah filsafat dan Teori
Pendidikan. Bandung:Fakultas Ilmu Pendidikan.
Syaripudin,
T. dan Kurniasih. 2008. Pengantar
Filsafat Pendidikan. Bandung:Percikan Ilmu.
Syam, M.
N.. 1984. Filsafat Pendidikan dan Dasar
Filsafat Pendidikan Pancasila. Surabaya:Usaha Nasional.
Persoalan Filsafat
Ada persoalan yang selalu menjadi
perhatian para filsuf yaitu: ada, pengetahuan, metode, penyimpulan, moralitas,
dan keindahan. Keenam persoalan tersebut memerlukan jawaban secara radikal, dan
tiap-tiap persoalan menjadikan salah satu cabang filsafat.
a.
Persoalan
tentang “Ada”
Persoalan tentang “ada” ini akan menghasilkan cabang
filsafat metafisika. Dimana metafisika berarti kajian tentang sifat paling
dalam dan radikal dari kenyataannya. Dalam kajian ini para filsuf tidak menyatu
kepada ciri-ciri khusus dari benda tertentu, akan tetapi para filsuf ini
mengacu kepada ciri-ciri universal dari semua benda.
b.
Persoalan
tentang Pengetahuan
Persoalan tentang pengetahuan ini akan mengahasilkan
cabang filsafat epistimologi, yang berarti cabang pengetahuan. Dalam rumusan
yang lebih rinci disebutkan bahwa epistemologi merupakan salah satu cabang
filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula
pengetahuan, struktur, metode dan validitas pengetahuan.
c.
Persoalan
tentang Penyimpulan
Persoalan tentang penyimpulan menghasilkan cabang
filsafat logika. Logika berasal dari istilah Yunani yaitu logos yang berarti
uraian, nalar, secara umum pengertian logika ialah telaah mengenai
aturan-aturan penalaran yang benar. Logika adalah ilmu pengetahuan dan
kecakapan untuk berpikir tepat dan benar. Sedangkan berpikir mempunyai arti
kegiatan pikiran atau akal budi manusia.
d.
Persoalan
tentang Metode
Persoalan tentang metode akan menghasilkan cabang
filsafat metologi. Metologi secara umum adalah kajian atau telaah dan
penyusunan secara sistematik dari beberapa proses dan asas-asas logis dan
percobaan yang sistematis yang menuntun suatu penelitian dan kajian ilmiah,
atau sebagai penyusun struktur ilmu-ilmu vak.
e.
Persoalan
tentang Moralitas
Persoalan tentang moralitas akan menghasilkan cabang
filsafat etika. Yang mana etika itu merupakan salah satu cabang filsafat
menghendaki adanya ukuran yang bersifat universal. Dalam hal ini berarti
berlaku untuk semua orang dan setiap saat, jadi tidak dibatasi ruang dan waktu.
f.
Persoalan
tentang Keindahan
Persoalan tentang keindahan ini akan menghasilkan
cabang filsafat estetika. Dimana estetika itu merupakan kajian kefilsafatan
mengenai keindahan dan tidak keindahan. Dalam pengertian yang lebih luas
estetika merupakan cabang filsafat yang menyakut bidang keindahan atau sesuatu
yang indah terutama masalah seni dan rasa, norma-norma nilai dalam seni.
Sumber:
Sudarsono, Drs. 2008. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta:
Rineka Cipta
Sejarah dan Arti Lambang Negara Indonesia
Lambang negara Indonesia adalah Garuda Pancasila
dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Lambang negara Indonesia berbentuk burung Garuda
yang kepalanya menoleh ke sebelah kanan (dari sudut pandang Garuda), perisai
berbentuk menyerupai jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda,
dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang
berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu” ditulis di atas pita yang dicengkeram
oleh Garuda. Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno, dan diresmikan pemakaiannya sebagai lambang negara
pertama kali pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat
tanggal 11 Februari 1950. Lambang negara Garuda Pancasila diatur penggunaannya
dalam Peraturan Pemerintah No.
43/1958.
Sejarah
Arca Raja Airlangga digambarkan sebagai Wishnu
mengendarai Garuda. Rancangan awal Garuda Pancasila oleh Sultan Hamid II masih
menampilkan bentuk tradisional Garuda yang bertubuh manusia. Garuda Pancasila yang
diresmikan penggunaannya pada 11 Februari 1950, masih tanpa jambul dan posisi
cakar di belakang pita. Garuda, kendaraan (wahana)
Wishnu tampil di berbagai candi
kuno di Indonesia, seperti Prambanan, Mendut, Sojiwan, Penataran, Belahan, Sukuh dan Cetho dalam bentuk relief atau arca.
Di Prambanan terdapat sebuah candi di muka candi Wishnu yang dipersembahkan
untuk Garuda, akan tetapi tidak ditemukan arca Garuda di dalamnya. Di candi
Siwa Prambanan terdapat relief episode Ramayana yang menggambarkan keponakan Garuda
yang juga bangsa dewa burung, Jatayu, mencoba menyelamatkan Sinta
dari cengkeraman Rahwana. Arca anumerta Airlangga yang digambarkan sebagai Wishnu tengah mengendarai
Garuda dari Candi Belahan mungkin adalah arca Garuda Jawa Kuna paling terkenal,
kini arca ini disimpan di Museum Trowulan.
Garuda muncul dalam berbagai
kisah, terutama di Jawa dan Bali. Dalam banyak kisah Garuda melambangkan
kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan disiplin. Sebagai
kendaraan Wishnu, Garuda juga memiliki sifat Wishnu sebagai pemelihara dan
penjaga tatanan alam semesta. Dalam tradisi Bali, Garuda dimuliakan sebagai
"Tuan segala makhluk yang dapat terbang" dan "Raja agung para
burung". Di Bali ia biasanya digambarkan sebagai makhluk yang memiliki
kepala, paruh, sayap, dan cakar elang, tetapi memiliki tubuh dan lengan
manusia. Biasanya digambarkan dalam ukiran yang halus dan rumit dengan warna
cerah keemasan, digambarkan dalam posisi sebagai kendaraan Wishnu, atau dalam
adegan pertempuran melawan Naga. Posisi mulia Garuda dalam tradisi
Indonesia sejak zaman kuna telah menjadikan Garuda sebagai simbol nasional
Indonesia, sebagai perwujudan ideologi Pancasila. Garuda juga dipilih sebagai nama maskapai
penerbangan nasional Indonesia Garuda Indonesia. Selain Indonesia, Thailand juga menggunakan Garuda sebagai lambang negara.
Setelah
Perang Kemerdekaan Indonesia
1945-1949, disusul pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949,
dirasakan perlunya Indonesia (saat itu Republik Indonesia Serikat)
memiliki lambang negara. Tanggal 10
Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di
bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan
susunan panitia teknis Muhammad Yamin sebagai
ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A
Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Poerbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas
menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada
pemerintah
Lambang
Garuda juga digunakan di jersey Tim Nasional Sepak Bola Indonesia. Merujuk
keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung
Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri
Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik,
yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang
diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin
ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang menampakkan pengaruh Jepang.
Setelah
rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II),
Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk
keperluan penyempurnaan rancangan itu. Mereka bertiga sepakat mengganti pita
yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih
dengan menambahkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika".Tanggal 8 Februari
1950, rancangan lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II
diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan lambang negara tersebut mendapat
masukan dari Partai Masyumi untuk
dipertimbangkan kembali, karena adanya keberatan terhadap gambar burung Garuda
dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap terlalu
bersifat mitologis.
Sultan
Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah
disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk
Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno
kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta
sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila”
terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara
karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS
pada tanggal 11 Februari 1950. Ketika
itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih "gundul" dan
tidak berjambul seperti bentuk sekarang ini. Presiden Soekarno kemudian
memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di
Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.
Soekarno
terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950 Soekarno
memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut;
setelah sebelumnya diperbaiki antara lain penambahan "jambul" pada
kepala Garuda Pancasila, serta mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita
dari semula di belakang pita menjadi di depan pita, atas masukan Presiden
Soekarno. Dipercaya bahwa alasan Soekarno menambahkan jambul karena kepala Garuda
gundul dianggap terlalu mirip dengan Bald Eagle, Lambang Amerika Serikat.[4] Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II
menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan
menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara. Rancangan Garuda
Pancasila terakhir ini dibuatkan patung besar dari bahan perunggu berlapis emas
yang disimpan dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional sebagai acuan, ditetapkan sebagai lambang
negara Republik Indonesia, dan desainnya tidak berubah hingga kini.
Deskripsi dan arti filosofi
Garuda
- Garuda Pancasila sendiri adalah burung Garuda yang sudah dikenal melalui mitologi kuno dalam sejarah bangsa Indonesia, yaitu kendaraan Wishnu yang menyerupai burung elang rajawali. Garuda digunakan sebagai Lambang Negara untuk menggambarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat.
- Warna keemasan pada burung Garuda melambangkan keagungan dan kejayaan.
- Garuda memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang melambangkan kekuatan dan tenaga pembangunan.
- Jumlah bulu Garuda Pancasila melambangkan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, antara lain:
- 17 helai bulu pada masing-masing sayap
- 8 helai bulu pada ekor
- 19 helai bulu di bawah perisai atau pada pangkal ekor
- 45 helai bulu di leher
Perisai
- Perisai adalah tameng yang telah lama dikenal dalam kebudayaan dan peradaban Indonesia sebagai bagian senjata yang melambangkan perjuangan, pertahanan, dan perlindungan diri untuk mencapai tujuan.
- Di tengah-tengah perisai terdapat sebuah garis hitam tebal yang melukiskan garis khatulistiwa yang menggambarkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu negara tropis yang dilintasi garis khatulistiwa membentang dari timur ke barat.
- Warna dasar pada ruang perisai adalah warna bendera kebangsaan Indonesia "merah-putih". Sedangkan pada bagian tengahnya berwarna dasar hitam.
- Pada perisai terdapat lima buah ruang yang mewujudkan dasar negara Pancasila. Pengaturan lambang pada ruang perisai adalah sebagai berikut.
- Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan cahaya di bagian tengah perisai berbentuk bintang yang bersudut lima berlatar hitam.
- Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dilambangkan dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi di bagian kiri bawah perisai berlatar merah.
- Sila Ketiga: Persatuan Indonesia dilambangkan dengan pohon beringin di bagian kiri atas perisai berlatar putih.
- Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dilambangkan dengan kepala banteng di bagian kanan atas perisai berlatar merah dan
- Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan kapas dan padi di bagian kanan bawah perisai berlatar putih.
Pita bertuliskan semboyan
Bhinneka Tunggal Ika
- Kedua cakar Garuda Pancasila mencengkeram sehelai pita putih bertuliskan "Bhinneka Tunggal Ika" berwarna hitam.
- Semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah kutipan dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Kata "bhinneka" berarti beraneka ragam atau berbeda-beda, kata "tunggal" berarti satu, kata "ika" berarti itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya tetap adalah satu kesatuan, bahwa di antara pusparagam bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.
MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT
Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha
untuk memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Dr. Oemar A. Hosein
mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengetahuan, dan filsafat memberikan
hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan
yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran. S. Takdir Alisyahbana menulis
dalam bukunya: Pembimbing ke Filsafat Metafisika, filsafat itu dapat memberikan
ketenangan pikiran-pikiran dan kematangan hati, sekalipun menghadapi maut.
Radhakrishnan dalam bukunya, History of
Philosophy menyebutkan: Tugas filsafat bukanlah sekedar mencerminkan
semangat masa ketika kita hidupi, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat
adalah kreatif, menerapkan nilai, menerapkan tujuan, menentukan arah dan
menuntun pada jalan baru.
Berbeda
dengan pendapat Soemadi Soejabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk
mempertajam pikiran maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup
diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat
kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku),
maupun Metafisika (hakikat keaslian).
Manfaat
mempelajari filsafat ada bermacam-macam. Namun sekurang-kurangnya ada 4 macam
faedah, yaitu :
1. Agar
terlatih berpikir serius
2. Agar
mampu memahami filsafat
3. Agar
mungkin menjadi filsafat
4. Agar
menjadi warga negara yang baik
Berfilsafat
ialah berusaha menemukan kebenaran tentang segala sesuatu dengan menggunakan
pemikiran secara serius. Plato menghendaki kepala negara seharusnya filosuf.
Belajar filsafat merupakan salah satu bentuk latihan untuk memperoleh kemampuan
memecahkan masalah secara serius, menemukan akar persoalan yang terdalam,
menemukan sebab terakhir satu penampakkan.
Dengan
uraian diatas jelaslah bagi kita bahwa secara kongkrit manfaat mempelajari
filsafat adalah :
1. Filsafat
menolong mendidik,
2. Filsafat
memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan
persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari.
3. Filsafat
memberikan pandangan yang luas
4. Filsafat
merupakan latihan untuk berpikir sendiri
5. Filsafat
memberikan dasar,-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika)
maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya, seperti sosiologi, Ilmu jiwa,
ilmu mendidik, dan sebagainya.
Langganan:
Postingan (Atom)